Selasa, 03 Mei 2011



ANALISIS LIRIK LAGU

ANALISIS LIRIK LAGU CIPTAAN IWAN FALS


I. PENDAHULUAN
Analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa. Manfaat melakukan kegiatan analisis wacana adalah memahami hakikat bahasa, memahami proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa.
Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran. Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional. Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antarpenyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana terlihat sebagai hasil dari pengungkapan ide atau gagasan penyapa. Disiplin ilmu yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana. Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan.
Bahasa merupakan media pembangun karya sastra. Sebagai media, bahasa berfungsi untuk mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan dan tujuan yang ada dalam benak pengarang yang ingin disampaikan kepada pembaca. Sebuah karya sastra dapat dikatakan sebagai suatu dunia yang diciptakan pengarang melalui media bahasa. Oleh karena itu, dalam menyampaikan gagasan-gagasannya pengarang akan memiliki gaya bahasa sendiri yang mencerminkan karakternya.
Setiap pengarang mempunyai gaya bahasa sendiri dalam menyampaikan pikiran, perasaan atau pesan kepada pembaca. Gaya bahasa merupakan salah satu aspek yang digunakan pengarang dalam mendayagunakan bahasa. Pengarang sering menggunakan gaya bahasa untuk menciptakan efek tertentu dalam karya sastranya. Efek tersebut dapat menimbulkan nilai dan pengalaman estetik serta dapat menimbulkan reaksi tertentu bagi pembaca.
Sebuah karya sastra merupakan karya imajinatif dengan menggunakan media bahasa yang khas. Karya sastra tersebut dapat berupa puisi, prosa, dan novel. Puisi merupakan salah satu karya sastra yang menggunakan bahasa yang khas. Bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kekhasan bahasa dalam puisi salah satunya terdapat dalam lirik lagu. Lirik lagu bersifat puitik dan mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan puisi. Pemilihan penelitian ini berdasarkan pada lirik lagu yang mempunyai ciri-ciri mirip dengan puisi, karena ada beberapa pengarang yang menghubungkan puisi dengan musik. Jhon Dryden (dalam Henry Guntur Tarigan, 1993: 5) mengatakan bahwa poetry is articulate music. Sementara itu, Isaac Newton (dalam Henry Guntur Tarigan, 1993: 5) mengatakan bahwa poetry is ingenius fiddle-faddle, yang artinya puisi adalah nada yang penuh keaslian dan keselarasan. Dalam hal ini Henry Guntur Tarigan menjelaskan bahwa hubungan antara puisi dan musik amat erat, ini bisa dilihat bahwa unsur utama puisi adalah irama. Lebih lanjut Henry Guntur Tarigan (1993: 5) mengatakan bahwa salah satu maksud utama puisi terhadap para penikmatnya pada umumnya adalah not to speak but to sing, yang artinya bukan berbicara tetapi berdendang.
Lirik lagu juga merupakan ekspresi seseorang dari alam batinnya tentang suatu hal yang dilihat, didengar atau dialaminya. Penuangan ekspresi lewat lirik lagu ini selanjutnya diperkuat dengan melodi dan notasi musik yang disesuaikan dengan lirik lagunya. Dengan demikian penikmat musik akan semakin terbawa dalam alam batin pengarangnya. Suminto A. Sayuti (1985: 24) mengemukakan bahwa bahasa yang digunakan dalam lirik lagu merupakan hal yang menarik untuk dikaji, karena bahasa lirik lagu merupakan bahasa puisi. Bahasa puisi adalah sifat-sifat bahasa yang digunakan sebagai media ekspresi dan bukan merupakan bahasa yang definitif.

II. kajian Teori
A. GAYA BAHASA
Gaya bahasa atau style dalam kebahasaan dititikberatkan pada kesesuaian pemilihan kata dalam sebuah wacana. Jangkauannya tidak hanya mencakup unsur-unsur kalimat (frasa, klausa, dan pilihan kata), tetapi juga termasuk unsur kalimat yang mengandung corak-corak tertentu. Nada yang tersirat dalam wacana merupakan penilaian terhadap identitas penulis. Gorys Keraf (2004: 113) mengungkapkan bahwa gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara untuk mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis atau pemakai bahasa. Aminuddin (1995: 35) juga mengungkapkan bahwa gaya bahasa adalah cara penggunaan sistem tanda yang mengandung ide, gagasan, dan nilai estetis tertentu.
Gaya bahasa merupakan cara pengungkapan bahasa dalam prosa atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan (Abrams dalam Burhan Nurgiyantoro, 2005: 276). Leech dan Short dalam Burhan Nurgiyantoro (2005: 276) juga berpendapat bahwa gaya bahasa adalah suatu hal yang pada umumnya tidak lagi mengandung sifat kontroversial, menyaran pada pengertian cara penggunaan bahasa dalam waktu tertentu, oleh pengarang tertentu, untuk tujuan tertentu dan sebagainya.
Menurut Rachmad Djoko Pradopo (1997: 264) gaya bahasa merupakan cara penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan efek-efek tertentu. Dalam karya sastra efek ini adalah efek estetik yang turut menyebabkan karya sastra bernilai seni. Meskipun nilai seni karya sastra tidak hanya semata-mata disebabkan gaya bahasa saja, namun gaya bahasa sangat besar sumbangannya terhadap pencapaian nilai seni karya sastra.
Slamet Muljana dalam Rachmad Djoko Pradopo (1997: 265) mengatakan bahwa gaya bahasa adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan dalam hati pengarang yang dengan sengaja atau tidak, menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca. Lain halnya dengan Dick Hartoko dan Rahmanto (dalam Rachmad Djoko Pradopo, 1997: 264) mengatakan bahwa gaya bahasa adalah cara yang khas yang dipakai seseorang untuk mengungkapkan diri (gaya pribadi).
Sementara itu, Harimurti Kridalaksana (dalam Rachmad Djoko Pradopo, 1997: 264) mengatakan bahwa gaya bahasa memiliki tiga pengertian, yaitu: (1) pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis; (2) pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu dan; (3) keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra. Berdasarka pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah cara pengungkapan dengan bahasa yang khas untuk menuangkan sebuah pikiran, sehingga menciptaka efek-efek tertentu kepada para pembaca atau pendengar.
Gorys Keraf (2004: 114) mengkategorikan gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat, yaitu: (1) gaya bahasa klimaks; (2) gaya bahasa antiklimaks; (3) gaya bahasa paralelisme; (4) gaya bahasa antitesis; (5) gaya bahasa repetisi (epizeukis, tautotes, anafora, epistrofa, simploke, mesodiplois, dan anadiplois). Gorys Keraf (2004: 115) juga mengkategorikan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna, gaya bahasa tersebut meliputi: (1) gaya bahasa retoris (aliterasi, asonansi, anastrof, apofasis, apostrof, asidenton, polisidenton, kiasmus, elipsis, eufimisme, litotes, hysteron, prosteron, pleonasme, tauntology, perifasis, prolepsis, erotesis, silepsis, zeugma, koreksio, hiperbola, paradoks, dan oksimoron); (2) gaya bahasa kiasan (simile, metafora, alegori, parabel, fabel, personifikasi, alusi, sinisme, sarkasme, satire, innuendo, dan antifrasis).
Perrin sebagaimana dikutip Henry Guntur Tarigan (1995: 141) mengemukakan tiga jenis gaya bahasa, yaitu: (1) perbandingan, terdiri dari metafora, persamaan, analogi; (2) hubungan, terdiri dari metonomia dan sinekdoke; (3) pernyataan, terdiri dari hiperbola, litotes, dan ironi. Sedangakan Badudu sebagaimana dikutip Riyono Pratikno (1984: 151) dikemukakan bahwa gaya bahasa dibagi menjadi empat jenis, yaitu (1) gaya bahasa perbandingan; (2) gaya bahasa sindiran; (3) gaya bahasa penegasan; dan (4) gaya bahasa pertentangan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa dapat dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu: (1) gaya bahasa perbandingan, terdiri dari simile, metafora, personifikasi, alegori; (2) gaya bahasa pertentangan, terdiri dari hiperbola, ironi, oksimoron, paradoks, klimaks, antiklimaks; (3) gaya bahasa pertautan, terdiri dari metonimia, sinekdoke, paralelisme, elipsis; (4) gaya bahasa perulangan, terdiri dari aliterasi, asonansi, anafora, dan epizeukis.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, gaya bahasa adalah cara pengungkapan dengan bahasa yang khas untuk menuangkan sebuah pikiran, sehingga menciptaka efek-efek tertentu kepada para pembaca atau pendengar. Selain itu, gaya bahasa dapat dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu: (1) gaya bahasa perbandingan, terdiri dari simile, metafora, personifikasi, alegori; (2) gaya bahasa pertentangan, terdiri dari hiperbola, ironi, oksimoron, paradoks, klimaks, antiklimaks; (3) gaya bahasa pertautan, terdiri dari metonimia, sinekdoke, paralelisme, elipsis; (4) gaya bahasa perulangan, terdiri dari aliterasi, asonansi, anafora, dan epizeukis.

B. HAKIKAT LIRIK LAGU
Atar Semi (1993: 106) mengungkapkan bahwa lirik adalah puisi yang sangat pendek yang mengekspresikan emosi. Lirik dapat juga diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, karena itu ia disusun dalam susunan yang sederhana dan mengungkapkan sesuatu yang sederhana pula. Ragam bahasa lagu atau lirik lagu termasuk dalam kategori ragam bahasa tidak resmi atau disebut juga ragam non formal/tidak baku. Ragam bahasa ini merupakan ragam santai dan akrab. Ragam santai digunakan dalam keadaan santai, misalnya pada saat berbincang-bincang dengan teman, rekreasi, berolahraga, dan lain-lain. Di dalam penulisan lagu seorang pencipta lagu tidak terlalu mempersoalkan tentang kebakuan bahasa yang dipakainya. Pemakaian bahasa yang ditulis bersifat longgar seperti bahasa yang digunakan dalam situasi santai namun tentu tidak terlepas dari proses kreatif, seleksi kata dan bahasa.
Lirik lagu yang dihasilkan haruslah merupakan bahasa yang mampu memberikan kenikmatan estetik bagi pendengarnya. Kenikmatan estetik dalam bahasa adalah perasaan senang yang ditimbulkan oleh pemakaian bahasa yang indah, halus, melodius, yang mencerminkan selera dan citarasa artistik pengarang atau penyairnya yang tinggi.
Keindahan bahasa dibuat melalui pemilihan kata yang akurat, yang memperlihatkan nilai rasa, keselarasan bunyi, irama yang teratur atau bergelombang, serta penggunaan idiom yang tepat. Hal ini menjadikan pemakaian bahasa pada lirk lagu memiliki ciri-ciri khusus yang membedakan dengan pemakaian bahasa lainnya.
Seorang pencipta lagu dalam menulis lirik lagu mementingkan faktor liguistik untuk mewujudkan hasil karyanya, antara lain: pilhan kata dan gaya bahasa. Faktor diksi dalam syair lagu merupakan faktor penting karena pemilihan kata yang tepat dan sesuai dengan musik merupakan daya tarik dari suatu lagu. Demikian juga dengan gaya bahasa, merupakan faktor yang membentuk suatu keindahan lagu. Sehubungan dengan pemilihan kata, kesesuaian kata meliputi bentuk dan arti. Bentuk merupakan wujud ujaran yang diucapkan manusia, sedangkan arti mengacu pada pesan yang disampaikan. Arti memiliki tipe-tipe sesuai dengan kedudukan pemakai bahasa dalam suatu kalimat. Dengan pemilihan kata yang tepat, suatu karya akan memberi kesan kepada para pembaca atau pendengar.
Dalam lagu, penyair atau pengarang harus cermat memilih kata-kata karena kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya dan keddudukan kata dalam keseluruhan lagu itu. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Gorys Keraf (2004: 24) bahwa diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan menemukan bentuk sesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
Menurut Herman J. Waluyo (1987: 72), setidaknya dalam proses pemilihan kata terdapat tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu: perbendaharaan kata, urutan kata, dan daya sugesti kata. Berikut ini penjelasannya:
1) Perbendaharaan kata
Perbendaharaan kata penyair dapat memberikan kekuatan ekspresi dan menunjukkan ciri khas penyair. Penyair memilih kata-kata berdasarkan pada beberapa hal, yaitu: makna yang akan disampaikan, tingkat perasaan, suasana batin, dan faktor sosial budayanya.
2) Urutan kata
Urutan kata dalam lagu bersifat beku. Artinya, urutan itu tidak dapat dipindah-pindahkan tempatnya meskipun maknanya tidak berubah oleh perpindahan tempat itu. Terdapat perbedaan teknik menyusun urutan kata dalam lagu baik urutan dalam tiap baris maupun urutan dalam suatu bait. Oleh karena itu, pengurutan kata itu bersifat khas antara masing-masing penyair.
3) Daya sugesti kata
Sugesti ditimbulkan oleh makna kata yang dipandang sangat tepat mewakili perasaan penyair. Ketepatan pilihan dan ketepatan penempatan menyebabkan kata-kata itu seolah memancarkan daya yang mampu memberikan sugesti kepada pendengar untuk ikut bersedih, terharu, bersemangat dan marah.










BAB IV. PEMBAHASAN
A. ANALISIS JENIS-JENIS GAYA BAHASA PADA LIRIK LAGU
CIPTAAN IWAN FALS
Dari analisis data dapat diketahui bahwa tiap album Iwan Fals terdiri atas beberapa jenis gaya bahasa. Gaya bahasa yang terdapat dalam album “Sumbang” sebanyak 49 buah, album “Sarjana Muda” sebanyak 53 buah, album “Ethiopia” sebanyak 62 buah, album “Manusia ½ Dewa” sebanyak 29 buah, album “Cikal” sebanyak 33 buah, album “Opini” sebanyak 28 buah, album “1910” sebanyak 42 buah, album “Wakil Rakyat” sebanyak 22 buah, album “Suara Hati” sebanyak 6 buah, dan album “Sugali” sebanyak 47 buah. Gaya bahasa yang dominan muncul adalah gaya bahasa paralelisme sebanyak 70 buah, asonansi sebanyak 63 buah, aliterasi sebanyak 56 buah, anafora sebanyak 34 buah, hiperbola sebanyak 30 buah, personifikasi sebanyak 26 buah, simile sebanyak 22 buah, metafora sebanyak 16 buah, metonimia sebanyak 15 buah, ironi sebanyak 11 buah, elipsis sebanyak 8 buah, sinekdoke sebanyak 8 buah, epizeukis sebanyak 4 buah, klimaks sebanyak 3 buah, anti klimaks sebanyak 2 buah, alegori sebanyak 1 buah, oksimoron sebanyak 1 buah, dan paradoks sebanyak 1 buah. Analisis data selengkapnya dapat dilihat pada paparan berikut ini.
Jenis-jenis gaya bahasa yang terdapat dalam lirik lagu ciptaan Iwan Fals ini ternyata cukup bervariasi, artinya terdapat beberapa jenis gaya bahasa yang ditemukan dalam lirik lagu tersebut. Dari hasil penelitian terdapat delapan belas jenis gaya bahasa, yaitu:
a. Perumpamaan atau simile
Simile merupakan gaya bahasa perbandingan yang ditandai oleh unsur konstruksional seperti: bagai, sebagai, bak, dan sejenisnya. Dalam penelitian ini, unsur konstruksional yang ada adalah seperti, bagai, dan bak. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada data-data berikut ini:
(1) butiran embun yang ada di daun bagai intan berlian (KKHP)
(2) betismu bukan main, indah bak padi bunting (GZ)
(3) binatang tak mempunyai akal dan pikiran
segala cara halalkan demi perut kenyang
binatang tak pernah tahu rasa belas kasihan
padahal di sekitarnya tertatih berjalan pincang
namun kadangkala, ada manusia seperti binatang
bahkan lebih kejam dari binatang (Op)
(4) datangnya pertolongan yang sangat diharapkan bagai rindukan bulan (CCTDC)
(5) Tante-tante yang kesepian bertingkah seperti perawan (O.A.M)
Pada data (1) penyair menyamakan butir embun yang ada di daun dengan intan berlian. Kedua hal tersebut sangat berbeda, butir embun yang biasa ditemui setelah terjadi hujan disamakan dengan perhiasan yang berupa intan berlian. Pada data (2) betis yang dimaksud adalah betis seorang guru yang bernama Zirah. Betis guru Zirah disamakan seperti buah padi bunting yang berkonotasi pada buah padi yang sudah masak dan menguning. Begitu pula pada data (3) dan (5). Pada data (3) manusia disamakan dengan binatang, sedangkan pada data (5) tingkah tante-tante kesepian disamakan dengan tingkah perawan.
Pada data (4) datangnya pertolongan yang sangat diharapkan, digambarkan bagaikan merindukan bulan. Pertolongan yang dimaksud di sini adalah pertolongan ketika kapal akan tenggelam dan mereka mengharapkan pertolongan yang cepat. Namun, karena lingkungan yang tidak memungkinkan karena berada di lingkungan lautan yang luas, maka pertolongan yang diharapkan diibaratkan “bagaikan merindukan bulan”. Simbol “bagaikan merindukan bulan” merupakan simbol tentang sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi. Dengan perbandingan ini, imajinasi pemmbaca lebih mudah untuk terbawa dalam suasana yang ditimbulkan dalam lirik lagu tersebut. Dengan perbandingan ini penyair juga berusaha membandingkan segala sesuatu dengan yang lain, agar yang semula kelihatan abstrak menjadi lebih konkret dan mudah ditangkap oleh pembaca. Artinya hal yang diungkapkan tampak terlihat, terdengar atau terasakan dan terbayangkan oleh pembaca. Frekuensi kemunculan gaya bahasa simile ini adalah 22 kali.

b. Metafora
Metafora adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu hal atau peristiwa dengan menggunakan perbandingan secara langsung. Metafora merupakan bahasa kiasan yang tidak menggunakan kata-kata pembanding. Penggunaan gaya bahasa metafora dapat dilihat dari data-data berikut ini:
(6) mata indah bola pingpong (MIBPP)
(7) kota besar menjadi magnit (DOPB)
(8) walau hidup adalah permainan (MSD)
(9) walau hidup adalah hiburan (MSD)
Melalui data-data tersebut, dapat diketahui bahwa penyair mengadakan perbandingan. Misalnya, dalam data (6) mata yang indah digambarkan seperti bola ping pong yang berbentuk bundar. Pada data (7) kota besar disimbolkan sebagai magnit yang menarik orangorang dari desa untuk pergi ke kota. Begitu pula dengan pada data (8) dan data (9), yaitu hidup disamakan dengan permainan dan hiburan.
Ungkapan-ungkapan Iwan Fals yang bersifat metaforik itu banyak mengandung tanggapan bagi pembaca yang benar-benar mencermatinya. Perbandingan tersebut membuat sesuatu yang semula abstrak dan merupakan sesuatu yang tidak jelas menjadi lebih konkret dan memberi kejelasan bagi pembaca. Perbandingan metafora lebih dapat menggugah asosiasi dibandingkan perbandingan yang menggunakan simile. Walaupun demikian, kedua perbandingan ini efektif sekali untuk menggugah dan merangsang tanggapan bagi pembaca. Selain itu, keduanya juga dapat lebih memperjelas tuturan dan maksud penyair. Frekuensi kemunculan gaya bahasa metafora ini sebanyak 17 kali.
c. Personifikasi
Gaya bahasa ini mencoba mengkonkretkan sesuatu hal dengan cara memberi sifat-sifat insani kepada makhluk atau benda mati. Dengan menggunakan gaya bahasa personifikasi ini pula diharapkan agar gambaran yang abstrak dan semula sulit ditangkap oleh pembaca menjadi mudah untuk dipahami. Agar lebih jelas, perhatikan data-data berikut ini:
(10) angin genit mengelus merah putihku
yang berkibar sedikit malu-malu (BPPIP)
(11) seperti biasa aku diam tak bicara
hanya mampu pandangi
bibir tipismu yang menari (En)
(12) lalat-lalat berdansa cha cha cha (Et)
(13) dan batu-batu karang tertawa ramah bersahabat (TBLL)
Melalui beberapa contoh di atas dapat terlihat bahwa dengan melihat sifat-sifat insani pada benda-benda mati itu, benda atau sesuatu yang semula abstrak menjadi lebih konkret dan ekspresif. Pada data (10) dapat dilihat bahwa penyair memberikan sifat insani kepada angin genit yang mengelus merah putih yang berkibar seidkit malu-malu. Dari contoh tersebut penyair memberikan sifat insani kapada angin dan bendera yang disimbolkan dengan merah putihku seperti tingkah laku manusia. Genit dan malu-malu merupakan sifat yang dimiliki manusia.
Pada data (11) bibir merupakan salah satu anggota tubuh manusia yang bisa bergerak apabila sedang bicara atau dikehendaki oleh manusia, sehingga bisa dikatakan sebagai benda mati. Penggambaran bibir yang menari ini, mempunyai arti bahwa bibir yang dimaksud sangat indah dan enak untuk dipandang waktu berbicara. Begitu pula pada data (12) dan data (13), lalat-lalat digambarkan bisa berdansa seperti manusia dan batu-batu karang bisa tertawa ramah dan bersahabat dengan manusia.
Pemberian sifat insani pada contoh-contoh tersebut membuktikan bahwa ungkapan gaya bahasa personifikasi dipergunakan Iwan Fals dalam lirik lagunya. Frekuensi kemunculannya sebanyak 26 kali. Banyaknya frekuensi personifikasi yang dipergunakan Iwan Fals dalam lirik lagunya bertujuan mengintesifkan pernyataan yang ingin disampaikan, disamping memperjelas amanat yang terkandung dalam lirik lagunya. Selain itu, gambaran dari penggunaan personifikasi ini akan terasa lebih memberikan rangsangan kenikmatan kepada pembaca.


d. Alegori
Gaya bahasa selanjutnya adalah alegori. Gaya bahasa ini merupakan cerita kiasan atau lukisan kiasan yang mengiaskan suatu hal atau kejadian. Agar lebih jelas, perhatikan data-data berikut ini:
(14) si anjing liar dari Yogyakarta
apa kabarmu ...
kurindu gonggongmu yang keras
hantam cadas
si kuda binal dari Yogyakarta
sehatkah kamu ...
kurindu ringkikmu yang genit
memaki onar
di mana kini kau berada
tetapkah nyaring suaramu
si mata elang dari Yogyakarta
resahkah kamu
kurindu sorot matamu yang tajam
belah malam
di mana runcing kokok paruhmu
tetapkah angkuhmu hadang keruh (Wi)
Lirik lagu ini menceritakan tentang seorang penyair yang dikenal protes dan kritik sosial. Penyair yang dimaksud adalah WS Rendra yang biasa dipanggil dengan nama Willy, dan nama panggilan itu dijadikan judul lagu tersebut. Pada data (14) penyair mengiaskan WS Rendra sebagai ‘anjing liar’ yang selalu menggongong keras. Selain itu WS Rendra juga disamakan dengan ‘kuda binal’ dan ‘burung elang’. Frekuensi kemunculan gaya bahasa ini sebanyak 1 kali.
e. Hiperbola
Gaya bahasa hiperbola pada dasarnya ingin memberikan gambaran secara berlebih-lebihan dari keadaan yang sebenarnya. Tujuannya tidak lain adalah untuk meyakinkan pembaca serta memberikan kesan semantis bahwa apa yang diutarakan itu adalah sungguh-sungguh. Oleh karena itu, penyair menggunakan kata-kata yang penuh dinamika, kata-kata yang bersifat positif, optimis dan kadang-kadang bersifat bombastis, tetapi tetap rasional dan tidak mengada-ada. Perhatikan data-data berikut ini:
(15) mayat-mayat bergelimpangan tek terkubur dengan layak (P1)
(16) di dalam ambulan tersebut tergolek sosok tubuh gemuk bergelimang
perhiasan (AZZ)
(17) namun aku tak takut untuk ungkapkan
segudang kata cinta padamu (MC)
(18) itu sepeda butut dikebut lalu cabut kalang kabut cepat pulang (GOB)
(19) hujan air mata dari pelosok negeri (BH)
Dengan memperhatikan data-data di atas, terlihat bahwa ada sedikit kesan bombastis dari kata-katanya. Pada data (15) menggambarkan mayat-mayat yang bergelimpangan di mana-mana dan tak terkubur sebagaimana mestinya. Mayat-mayat tersebut merupakan korban perang.
Data (17) yang menyatakan segudang kata cinta padamu merupakan ungkapan yang dilebih-lebihkan dan merupakan bombasme. Bombasme menyatakan suatu hal atau keadaan yang mustahil dan tidak masuk akal. Hal itu terjadi pada data (16) bergelimang perhiasan juga merupakan suatu hal yang berlebihan.
Pada data (18) penyair menyebutkan sepeda butut yang sudah tua bisa standing dan terbang seperti pesawat terbang. Kalau kita tidak menganalisalebih jauh, maka hal tersebut tidak akan mungkin terjadi. Namun, bila dicermati benar-benar hal tersebut mungkin sekali terjadi, terlebih di era globalisasi seperti sekarang ini. Semua terjadi di dunia dapat kita ketahi melalui teknologi yang ada. Begitu pula pada data (19) hujan air mata dari pelosok negeri bermaksud tangis dari orang-orang yang berduka karena kehilangan orang yang berduka karena kehilangan orang yang mereka sayangi atau hormati. Frekuensi kemunculan gaya bahasa hiperbola ini sebanyak 30 kali.
f. Ironi
Gaya bahasa lain yang terdapat dalam lirik lagu ciptaan Iwan Fals ini adalah gaya bahasa ironi. Gaya bahasa ironi merupakan gaya bahasa sindiran. Lirik lagu ciptaan Iwan Fals yang bergaya bahasa ironi, merupakan sindiran terhadap kejadian-kejadian yang terasa janggal atau ketidakadilan dalam suatu masyarakat atau negara, seperti yang terdapat dalam data berikut ini:
(20) engkau sarjana muda resah tak dapat kerja
tak berguna ijasahmu
empat tahun lamanya bergelut dengan buku (SM)
(21) berdarahkah tuan yang duduk di belakang meja
atau cukup hanya ucapkan bela sungkawa
aku bosan... (1910)
(22) Oemar Bakri Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri profesor doktor insinyur pun jadi
tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri (GOB)
(23) kereta tiba pukul berapa
biasanya kereta terlambat
dua jam mungkoin biasa
dua jam cerita lama (KTPB)
Contoh gaya bahasa ironi pada lirik lagu yang berjudul SM merupakan sindiran tentang sarjana muda yang sulit mencari pekerjaan setelah lulus kuliah. Tiap melamar ke sebuah jawatan, selalu ditolak. Di situ digambarkan bahwa selama 4 tahun kuliah, hanya sia-sia saja. Pada data (21) merupakan sindiran kepada pemerintah atas terjadinya kecelakaan kereta api yang menewaskan banyak orang. Pemerintah seolah-olah tidak mau bertanggung jawab atas musibah tersebut. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 19 Oktober, yang juga dijadikan judul lirik lagu oleh Iwan Fals.
Pada data (22) merupakan sindiran tentang nasib seorang pegawai negeri bernama Oemar Bakri yang telah 40 tahun menjadi guru. Oemar Bakri hanya memiliki gaji yang pas-pasan, tetapi justru menjadi korban korupsi oleh oknum-oknum tertentu. Padahal kontribusinya terhadap dunia pendidikan sangat besar. Begitu pula selanjutnya, sindiran-sindiran yang disampaikan oleh Iwan Fals memberikan gambaran atau pengetahuan bagi pembaca bahwa masih banyak orang lemah yang perlu diperhatikan. Pada data (23) merupakan sindiran terhadap kereta api yang sering terlambat kedatangannya dua jam dari waktu seharusnya.
Frekuensi kemunculan gaya bahas ironi sebanyak 12 kali. Penggunaan gaya bahasa ironi oleh Iwan Fals dalam lirik lagunya merupakan cara efektif untuk menyampaikan inspirasi yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan. Selain itu mengajak pembaca untuk berpikir sehingga mereka sadar dan mengerti akan maksud yang disembunyikan di balik rangkaian kata-katanya.
g. Oksimoron
Gaya bahasa oksimoron mengandung pertentangan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase yang sama, seperti pada data berikut ini:
(24) kehebatan ilimu pengetahuan untuk menghancurkan (P1)
Dengan memperhatikan contoh tersebut, terlihat bahwa adanya pertentangan antara kehebatan dan penghancuran dalam ilmu pengetahuan. Di jaman modern ini, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Segala hal dilakukan dengan teknologi modern. Akan tetapi, kadang-kadang ada manusia yang tak bertanggung jawab dengan menyalahgunakan teknologi tersebut. Meraka mengeksploitasi alam secara besar-besaran tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan. Hal itu akan berakibat rusaknya bumi dan lingkungannya.
Gaya bahasa oksimoron mengandung sindiran yang efektif. Gaya bahasa ini tidak banyak ditemukan dalam lirik lagu ciptaan Iwan Fals. Frekuensi kemunculan gaya bahasa oksimoron sebanyak 1 kali.
h. Paradoks
Paradoks merupakan gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan kenyataan yang ada, seperti yang terdapat pada data berikut ini:
(25) di atas derita mereka masih bisa tertawa (KB)
Pada data di atas dikatakan bahwa orang-orang kaya yang masih bisa tertawa, bersenang-senang, padahal di sekitarnya masih banyak orang miskin yang menderita dan membutuhkan pertolongan. Orang-orang kaya seolah-olah tidak peduli terhadap keadaan semacam itu. Mereka hanya mementingkan dirinya sendiri.
Sindiran yang terdapat dalam contoh lirik lagu di atas, sangat relevan dengan keadaan di Indonesia sekarang ini. Gaya bahasa pradoks juga jarang ditemukan dalam lirik lagu ciptaan Iwan Fals. Frekuensi kemunculannya sebanyak 1 kali.
i. Klimaks
Gaya bahasa klimaks merupakan gaya bahasa yang mengandung urut-urutan pikiran yang semakin meningkat kepentingannya dari hal-hal yang sudah disampaikan sebelumnya. Penggunaan gaya bahasa klimaks terdapat pada data berikut ini:
(26) itu dahulu beberapa tahun yang lalu
cerita orang tuaku
sangat berbeda dengan apa yang ada
tak biru lagi lautku
tak riuh lagi camarku
tak rapat lagi jalamu
tak kokoh lagi karangku
tak buas lagi ombakku
tak elok lagi daun kelapaku
tak senyum lagi nelayanku
tak senyum lagi nelayanku (TBLL)
(27) yang gila lagi orang gila masuk persidangan
punya pengacara yang juga gila
hakimnya gila jaksanya gila
jangan-jangan semuanya sudah gila
termasuk dokternya
termasuk saya...Mungkin (Mu)
Dalam lirik lagu yang berjudul TBLL bercerita tentang nasib seorang nelayan yang kehilangan tempat untuk mencari nafkah akibat rusaknya habitat laut. Untuk menegaskan nasib nelayan tersebut, dikatakan mulai dari ‘tak biru lagi lautku’, ‘tak riuh lagi camarku’, sampai dengan ‘tak buas lagi ombakku’. Pada baris terakhir merupakan pokok persoalan, dikatakan dengan ‘tak senyum lagi nelayanku’. Jadi, penjelasan tentang laut, camar, karang, dan ombak yang rusak tersebut merupakan pengantar untuk menuju pada penggambaran nasib nelayan. Begitu pula dalam lirik lagu yang berjudul Mu. Frekuensi kemunculan gaya bahasa ini sebanyak 3 kali.
j. Anti Klimaks
Gaya bahasa anti klimaks merupaka kebalikan dari gaya bahasa klimaks, yaitu gaya bahasa yang mengandung urut-urutan pikiran yang semakin menurun kepentingannya dari hal-hal yang sudah disampaikan sebelumnya. Penggunaan gaya bahasa anti klimaks ini terdapat pada data berikut ini:
(28) Tampomas sebuah kapal bekas
Tampomas trbakar di laut lepas
Tampomas penumpang terjun bebas
Tampomas beli lewat jalur culas
Tampomas hati siapa yang tak panas (CCTDC)
(29) di sana terlihat ribuan burung nazar
terbang di sisi iga-iga yang keluar
jutaan orang memaki takdirnya
jutaan orang mengutuk nasibnya
jutaan orang marah
jutaan orang tak bisa apa-apa (Et)
Lirik lagu yang berjudul CCTDC bercerita tentang kapal yang terbakar, yang bernama Tampomas. Untuk menegaskan nasib Tampomas dikatakan mulai dari ‘sebuah kapal bekas’, ‘terbakar di laut lepas’, ‘penumpang terjun bebas’, ‘beli lewat jalur culas’, dan yang terkhir adalah ‘hati siapa yang tak panas’. Hal yang terpenting dalam data tersebut adalah Tampomas merupakan sebuah kapal bekasyang terbakar di laut. Selanjutnya dijelaskan seterusnya sampai hal yang kurang penting sebagai pelengkapnya.
Begitu pula dalam data (29), bahwa ada jutaan orang yang tidak terima takdir yang dijalani. Mereka juga tidak terima nasib yang sedang dideritanya. Kemudian dijelaskan hal yang kurang penting, yaitu mereka tak bisa berbuat apa-apa. Frekuensi kemunculan gaya bahasa ini adalah 3 kali.
k. Metonimia
Gaya bahasa metonimia merupakan gaya bahasa yang dibentuk dengan penggantian nama. Penggunaan gaya bahasa ini terdapat pada data-data berikut.
(30) mentari pagi sudah membumbung tinggi (BPPIP)
(31) Tampomas terbakar
risau camar memberi salam
Tampomas dua tenggelam (CCTDC)
(32) belum usai peluit
belum habis putaran roda
aku dengar jerit dari Bintaro
satu lagi cacat dalam sejarah
air mata...air mata (1910)
(33) hei Tuhan adakah Kau murung
melihat beribu wajah berkabung
di sisa gelegar Galunggung (TDT)
Pada data (30) kata mentari digunakan untuk menggantikan kata matahari yang telah terbit. Begitu pula pada data (31), Tampomas dalam contoh tersebut, menggantikan nama sebuah kapal yang mengalami kecelakaan terbakar di laut lepas. Pada data (32) kata Bintaro yang terdapat dalam baris ‘aku dengar jerit dari Bintaro’, menggantikan nama sebuah stasiun yang terletak di Jakarta. Data (33) juga menjelaskan bahwa Galunggung menggantikan nama sebuah gunung di Jawa Barat yang meletus dan banyak memakan korban jiwa. Frekuensi kemunculan gaya bahasa ini sbanyak 15 kali.
l. Sinekdoke
Gaya bahasa berikutnya adalah gaya bahasa sinekdoke. Gaya bahasa sinekdoke dibagi menjadi dua jenis, yaitu pars pro toto dan totum pro parte. Pars pro toto merupakan sinekdoke yang menyebut sebagian untuk keseluruhan. Sedangkan totum pro merupakan sinekdoke yang menyebut keseluruhan untuk sebagian.
(34) apa kabar kereta yang terkapar di Senin pagi.
di gerbongmu ratusan orang yang mati
(35) seraut wajah berisi lamunan
(36) aku duduk menunggu
tanya loket dan penjaga
Pada data (34) merupakan sinekdoke pars pro toto, karena pernyataan ‘di gerbongmu ratusan orang yang mati’, kata di gerbongmu menyebutkan sebagian dari kereta, padahal yang dimaksud adalah seluruh rangkaian kereta api. Begitu pula pada data (35), seraut wajah termasuk sinekdoke pars pro toto, karena seraut wajah digunakan untuk menyebut seluruh tubuh secara lengkap. Pada data (36) loket merupakan bagian dari stasiun yang digunakan untuk membeli tiket sedangkan penjaga merupakan penjaga stasiun. Frekuensi kemunculan gaya bahasa ini sebanyak 8 kali.
m. Paralelisme
Gaya bahasa paralelisme merupakan gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran melalui pengulangan pola dan isi kalimat yang mempunyai maksud dan tujuan yang sama. Penggunaan gaya bahasa ini dapat dilihat pada data berikut ini.
(37) binatang tak mempunyai akal dan pikiran
segala cara halalkan demi perut kenyang
binatang tak pernah tahu rasa belas kasihan
padahal di sekitarnya tertatih berjalan pincang (Op)
(38) seolah kita tidak mau mengerti
seolah kita tidak pernah peduli
pura buta dan pura tuli (BPM)
(39) walau hidup adalah permainan
walau hidup adalah hiburan
tetapi kami tidak mau dipermainkan
dan kami juga bukan hiburan (MSD)
(40) mengapa bunga harus layu
setelah kumbang dapatkan madu
mengapa kumbang harus ingkar,
setelah bunga tak lagi mekar (BBKK)
Pada data (37) baris pertama dan ketiga dalam contoh lirik lagu yang berjudul Op, menunjukkan adanya paralelisme karena memiliki pola dan makna yang sama. Paralelisme yang digunakan dalam lirik lagu tersebut mengandung maksud untuk menegaskan dan menekankan ‘binatang’ yang tidak mempunyai akal dan pikiran serta tidak mempunyai rasa belas kasihan. Begitu pula pada data (38), baris pertama dan kedua menunjukkan adanya paralelisme yang menegaskan kata ‘seolah’, yang memiliki pola yang sama.
Pada data (39) baris pertama dan kedua terdapat kata ‘walau hidup’ yang digunakan untuk menegaskan maksud pengarang bahwa hidup adalah permainan dan hiburan. Begitu pula pada data (40) baris pertama sampai keempat menunjukkan adanya paralelisme yang menunjuk pada kata ‘mengapa’ dan ‘setelah’. Gaya bahasa ini frekuensi kemunculannya paling banyak yaitu 70 kali.
n. Elipsis
Gaya bahasa berikutnya adalah gaya bahasa elipsis yang merupakan gaya bahasa berwujud penghilangan suatu unsur kalimat yang dengan mudah ditafsirkan pembaca. Gaya bahasa tersebut terdapat pada data berikut ini.
(41) aku cinta kau saat ini
Entah esok hari
Entah lusa nanti
Entah ... (En)
(42) Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri profesor, doktor, insinyur pun jadi (GOB)
(43) terbayang baktimu, terbayang jasamuterbayang jelas… jiwa sederhanamubernisan bangga, berkafan doadari kami yang merindukan orangsepertimu… (BH)
(44) berjalan di situ … di pusat pertokoan
melihat-lihat barang-barang yang jenisnya beraneka ragam
cari apa di sana … pasti tersedia
asal uang di kantong cukup
itu tak ada soal (MYT)
Dari contoh-contoh di atas, terdapat danya penghilangan salah satu unsur dari kata, frase, maupun kalimat. Pada data (41) terdapat adanya penghilangan keterangan tempat atau waktu. Pendengar atau pembaca hanya bisa mereka-reka apa yang akan dikatakan Iwan Fals dalam lirik lagunya. Pada data (42) terdapat adanya penghilangan unsur predikat yaitu kata ‘menciptakan’.
Pada data (43) terdapat adanya penghilangan unsur subjek, yaitu Bung Hatta. Sedangkan, pada data (44) terdapat adanya penghilangan keterangan tempat. Semua contoh-contoh di atas merupakan kata, frase dan kalimat yang belum selesai. Kalimat-kalimat tersebut sengaja tidak diselesaikan oleh penyair agar pembaca atau pendengar menafsirkan sendiri. Apabila pendengar atau pembaca tidak melihat konteks lirik lagu secara keseluruhan, maka akan mengalami kesulitan untuk mengetahui maksud penyair. Gaya bahasa ini jumlahnya tidak terlalu banyak, tapi keberadaannya tidak dapat diabaikan begitu saja. Frekuensi kemunculan gaya bahasa ini sebanyak 8 kali.
o. Aliterasi
Gaya bahasa selanjutnya adalah aliterasi. Gaya bahasa ini lebih banyak berkaitan dengan efek estetis dan keritmisan bunyi. Kedua hal tersebut dapat lebih memperkuat makna dari ungkapan yang disampaikan penyair. Gaya bahasa aliterasi ini muncul karena adanya pillihan kata yang mempunyai persamaanbunyi, sedangkan kata-kata yang mempunyai persamaan bunyi tersebut sangat besar perannya dalam menciptakan suasana tertentu. Aliterasi ini dapat pula memadatkan arti dan membuat maknanya menjadi lebih intensif. Agar lebih jelas dapat dilihat pada data berikut ini.
(45) dunia politik penuh dengan intrik, kilik sana kilik sini itu sudah wajar
seperti orang adu jangkrik kalau nggak ngilik nggak asik (AGA)
(46) di ujung sana banyak orang kelaparan
ujung lainnya wabah busung menyerang
di sudut sana banyak orang kehilangan
sudut lainnya bayi bertanya bimbang
mama kapan ayah pulang?
mama sebab apa perang? (P1)
(47) cukong kotor, mandor kotor, semua yang kotor (SSSS)
(48) menjilat, menghasut, menindas
memperkosa hak-hak sewajarnya (Sb)
Dari contoh-contoh di atas terlihat bahwa Iwan Fals banyak menggunakan kata-kata yang menggunakan variasi konsonan bersuara k, t, s dan kombinasi bunyi sengau m, n, ng yang membuat tuturan menjadi beraturan dan ritmis. Begitu juga dengan bunyi l dan r. Kombinasi-kombinasi bunyi dalam kalimat-kalimat tersebut mempunyai bunyi musik atau orkestrasi. Suasana yang muram, berat dan gundah tergambar dalam contoh-contoh tersebut. Misalnya pada data (48) terdapat kata-kata ‘menjilat’, ‘menghasut’, dan ‘menindas’, disana terdapat kombinasi konsonan m, n, ng yang fungsinya justru menghalangi kelancaran ucapan, sehingga terlukis suasana yang berat dan tidak menyenangkan.
Frekuensi kemunculan gaya bahasa aliterasi sebanyak 56 kali. Banyaknya aliterasi yang muncul menunjukkan bahwa Iwan Fals ingin memberikan penekanan pada puisinya. Hal itu bertujuan supaya arti kata yang ditangkap pembaca atau pendengar lebih mendalam.
p. Asonansi
Selain gaya bahasa aliterasi, ada pula gaya bahasa yang juga memberikan efek ritmis, yaitu gaya bahasa asonansi. Gaya bahasa asonansi ini berwujud perulangan bunyi vokal yang sama. Asonansi biasanya digunakan pada puisi untuk memperoleh efek penekanan atau sekadar mendapatkan keindahan. Asonansi terdapat pada data berikut ini.
(49) derap pedati sebentar berhenti
tampak si tua sais pedati
mulai membuka bungkusan nasi
yang di bekali sang istri (STSP)
(50) lihat Sugali menari
di lokasi WTS kelas teri
asyik lembur sampai pagi
usai garong hambur uang peduli setan (Sg)
(51) jadilah bunglon jangan sapi
sebab seekor bunglon pandai baca situasi
jadilah karet jangan besi
sebab yang namanya karet tahan kondisi (N2)
(52) wajar saja kalau kuganggu
sampai kapan pun kurindu
lepaskan tawamu nona
agar tak murung dunia (MIBPP)
Pada data di atas terlihat dominasi bunyi vokal dalam pilihan kata yang digunakan oleh Iwan Fals. Hal itu menyebabkan keritmisan dalam lirik lagu tersebut. Gaya bahasa asonansi di atas tampak dari pilihan kata-kata yang memiliki persamaan bunyi. Pemilihan kata-kata yang didominasioleh vokal a dan u menyebabkan kelancaran ucapan, meskipun masih menggambarkan suasana yang berat. Hal itu dapat terlihat pada data (52), yang terdapat kombinasi vokal a dan u. Kata-kata yang didoninasi oleh vokal-vokal tersebut dapat melancarkan ucapan dan menimbulkan irama yang merdu. Kombinasi kedua vokal tersebut menyatakan perasaan yang buruk, sedih, dan murung.
Di samping itu terdapat pula kata-kata yang didominasi oleh vokal i yang dapat memperlancar ucapan, menimbulkan kesan yang ringan, tinggi dan kecil. Hal tersebut tampak pada data (49), (50), dan (51). Data-data itu memberi contoh yang ringan, tetapi bila dikaji lebih dalam, mengandung kesan semantis yang berat dan muram. Frekuensi kemunculan gaya bahasa ini sebanyak 63.
q. Anafora
Gaya bahasa anafora merupakan gaya bahasa perulangan kata pertama pada setiap baris atau kalimat. Pada berikut ini terdapat penggunaan gaya bahasa anafora.
(53) apakah ini karma?
apakah ini dosa turunan?
apakah ini upah dari kebodohan? (MBDB)
(54) nusantara ... langitmu saksi kelabu
nusantara ... terdengar lagi tangismu
nusantara ... dan simpan kisah kereta
nusantara ... kabarkan marah sang duka (1910)
(55) meskipun kurang paham tentang radiasi
meskipun kurang paham tentang uranium
meskipun kurang paham tentang plutonium
ku tahu radioaktif panjang usia (P13)
(56) kerbau di kepalaku ada yang suci
kerbau di kepalamu sedang bekerja
kerbau di sini teman petani (Ci)
Pada data-data di atas, dapat dilihat bahwa awal baris kedua dan baris selanjutnya merupakan perulangan baris pertama. Pada data (53) terdapat perulangan kata ‘apakah’. Begitu pula pada data (54) terdapat perulangan kata ‘nusantara’. Pada data (55) terdapat perulangan kata ‘meskipun’. Perulangan kata juga terdapat pada data (56), yaitu kata ‘kerbau’. Frekuensi kemunculan gaya bahasa ini sebanyak 34 buah.
r. Epizeukis
Gaya bahasa epizeukis merupakan gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung, yaitu kata yang ditekankan atau yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut. Penggunaan gaya bahasa epizeukis terdapat pada data berikut.
(57) bayi, bayi, bayi, murni dan kosong (Ci)
(58) bayi, bayi, bayi, bayi harimau (Ci)
(59) bayi, bayi, bayi, yang berkalung sanca (Ci)
(60) bayi, bayi, bayi, yang disusui kerbau (Ci)
Pada data-data di atas, dapat dilihat terdapat adanya perulangan secara berturut-turut, yaitu kata ‘bayi’ yang diulang secara berturut-turut. Gaya bahasa apizeukis dalam lirik lagu ciptaan Iwan Fals hanya dapat ditemukan dalam lirik lagu yang berjudul Cikal. Namun, dalam lirik lagu tersebut bait yang terdapat gaya bahasa epizeukis dibedakan menjadi empat baris. Frekuensi kemunculan gaya bahasa ini sebanyak 4 kali.
Data mengenai jenis-jenis gaya bahasa pada lirik lagu ciptaan Iwan Fals disajikan secara lengkap pada penjelasan berikut ini.
E. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik simpulan, yaitu: jenis-jenis gaya bahasa yang terdapat pada lirik lagu ciptaan Iwan Fals terdiri atas delapan belas jenis, yaitu: gaya bahasa paralelisme sebanyak 70 buah atau 18,86 %, asonansi sebanyak 63 buah atau 16,98 %, aliterasi sebanyak 56 buah atau 15,09 %, anafora sebanyak 34 buah atau 9,16 %, hiperbola sebanyak 30 buah atau 8,08%, personifikasi sebanyak 26 buah atau 7,08 %, simile sebanyak 22 buah atau 5,93 %, metafora sebanyak 16 buah atau 4,31 %, metonimia sebanyak 15 buah atau 4,04 %, ironi sebanyak 11 buah atau 2,96 %, elipsis sebanyak 8 buah atau 2,16 %, sinekdoke sebanyak 8 buah atau 2,16 %, epizeukis sebanyak 4 buah atau 1,08 %, klimaks sebanyak 3 buah atau 0,81 %, anti klimaks sebanyak 2 buah atau 0,11 %, alegori sebanyak 1 buah atau 0,27 %, oksimoron sebanyak 1 buah atau 0,27 %, dan paradoks sebanyak 1 buah atau 0,27 %. Iwan Fals lebih banyak menggunakan gaya bahasa paralelisme karena lirik lagu Iwan Fals merupakan potret keadaan masyarakat Indonesia dan berdasarkan kenyataan hidup. Selain itu, Iwan Fals bertujuan memberikan efek semangat dan kesungguhan dari lirik lagu yang ditulisnya. Iwan Fals juga banyak menggunakan gaya bahasa asonansi, karena Iwan Fals ingin memperoleh nilai estetis pada lirik lagunya tersebut.












DAFTAR PUSTAKA
Abdul Mukhyi. 2003. Iwan Fals Tak Tahu Kapan Kisah Ini Akan Berakhir. Bandung: Your Dreamer Publish.
Andi Sudiman. 2007. Majas. http://id.andisudiman.org/ /Majas. Diakses pada tanggal 12 November 2008 pukul 09. 30 WIB.
Atar Semi. 1993. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya.
Burhan Nurgiyantoro. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Dian Putra. 2007. Iwan Fals: Ia Tetap Berdiri Ketika yang Lain Merunduk. http://iwan-fals.blogspot.com/2007/08/iwan-fals-ia-tetap-berdiri-ketika-yang.html. Diakses pada tanggal 13 November 2008 pukul 11.44 WIB.
Dick Hartoko dan B. Rahmanto. 1986. Pemandu di Dunia Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
Gorys Keraf. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Henry Guntur Tarigan. 1993. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
Herman J. Waluyo. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
_______________. 2003. Teori dan Apresiasi Puisi untuk Pelajar dan Mahasiswa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Lexy J. Moleong. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nani Tuloli, H. 1999. Peranan Sastra dalam Masyarakat Modern. (Editor: Hasan Alwi dan Dendy Sugono). Telaah Bahasa dan Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa
Panjalu.2007.http://panjalu.multiply.com/journal/item/20/Iwan_Fals_Sederhana_dan_Kharismatik. Diakses pada tanggal 13 November 2008 pukul 12.57 WIB.
Rachmad Djoko Pradopo. 1997. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Siswantoro. 2002. Apresiasi Puisi-puisi Sastra Inggris. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Suminto A. Sayuti. 1985. Puisi dan Pengajarannya. Semarang: IKIP Semarang Press.
_____________. 2006. Sastra Multikultural dan Pengajaran Sastra (Makalah), disampaikan dalam Konferensi Nasional Bahasa dan Sastra I (Konnas Basastra), 2 September 2006, FKIP Universitas Sebelas Maret.
Sutopo, H. B.. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Suyitno. 2002. Apresiasi Puisi dan Prosa (BPK FKIP UNS). Surakarta: FKIP Universitas Sebelas Maret.
Wahyu Rosadi. 2006. Majas/Gaya Bahasa dalam Bahasa Indonesia. http://organisasi.org/rosadi//. Diakses pada tanggal 12 November 2007 pukul 05.14.

MAKALAH ANALISIS PUISI AMIR HAMZAH

BAB I
PENDAHULUAN

Puisi merupakan bentuk kesusastraan yang paling tua. Karya-karya besar yang monumental ditulis dalam bentuk puisi. Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.
Perkembangan puisi di Indonesia tidak lepas dari panyair yang menciptan sebuah karya sastra. Secara garis besar puisi Indonesia terbagi dari beberapa angkatan. Yang pertama (1) penyair angkatan Balai pustaka, (2) Angkatan Pujangga Baru, (3) Angkatan 45, (4) Periode 1953-1961, (5) angkatan 66, (6) periode1970-1980-an, (7) periode 2000 daan sesudahnya.
Penyair Angkatan Pujangga Baru mempopulerkan jenis puisi yang lazim disebut sebagai puisi baru yang meliputi soneta, distikon, kwartetrain, dan sebagainya. Penyair yang dipandang kuat pada masa pujangga baru adalah Amir Hamzah yang oleh H.B Jasin digelari Raja Penyair Pujangga Baru. Amir Hamzah juga dipandang sebagai penyair terbesar pada masa sebelum perang.








BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah singkat tentang Pujangga Baru
Pada mulanya, Pujangga baru adalah nama majalah sastra dan kebudayaan yang terbit antara tahun 1933 sampai dengan adanya pelarangan oleh pemerintah Jepang setelah tentara Jepang berkuasa di Indonesia.
Adapun pengasuhnya antara lain Sultan Takdir Alisjahbana, Armein Pane , Amir Hamzah dan Sanusi Pane. Jadi Pujangga Baru bukanlah suatu konsepsi ataupun aliran. Namun demikian, orang-orang atau para pengarang yang hasil karyanya pernah dimuat dalam majalah itu, dinilai memiliki bobot dan cita-cita kesenian yang baru dan mengarah kedepan.
Barangkali, hanya untuk memudahkan ingatan adanya angkatan baru itulah maka dipakai istilah Angkatan Pujangga Baru, yang tak lain adalah orang-orang yang tulisan-tulisannya pernah dimuat didalam majalah tersebut. Adapun majalah itu, diterbitkan oleh Pustaka Rakyat, Suatu badan yang memang mempunyai perhatian terhadap masalah-masalah kesenian. Tetapi seperti telah disinggung diatas, pada zaman pendudukan Jepang majalah Pujangga Baru ini dilarang oleh pemerintah Jepang dengan alasan karena kebarat-baratan.
Namun setelah Indonesia merdeka, majalah ini diterbitkan lagi (hidup 1948 s/d 1953), dengan pemimpin Redaksi Sutan Takdir Alisjahbana dan beberapa tokoh-tokoh angkatan 45 seperti Asrul Sani, Rivai Apin dan S. Rukiah.
Mengingat masa hidup Pujangga Baru ( I ) itu antara tahun 1933 sampai dengan zaman Jepang , maka diperkirakan para penyumbang karangan itu paling tidak kelahiran tahun 1915-an dan sebelumnya. Dengan demikian, boleh dikatan generasi Pujangga Baru adalah generasi lama. Sedangkan angkatan 45 yang kemudian menyusulnya, merupakan angkatan bar yang jauh lebih bebas dalam mengekspresikan gagasan-gagasan dan kata hatinya.
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.
Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 – 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk. Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
Kelompok “Seni untuk Seni” yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
Kelompok “Seni untuk Pembangunan Masyarakat” yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis menjadi “bapak” sastra modern Indonesia. Pada masa itu, terbit pula majalah “Poedjangga Baroe” yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 – 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk. Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu 1. Kelompok “Seni untuk Seni” yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah dan; 2. Kelompok “Seni untuk Pembangunan Masyarakat” yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.
Ciri perkembangan puisi pada angkatan pujangga baru adalah
1) Bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia modern,
2) Temanya tidak hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi mencakup masalah
yang kompleks, seperti emansipasi wanita, kehidupan kaum intelek, dan sebagainya,
3) Bentuk puisinya adalah puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari 14 baris,
4) Pengaruh barat terasa sekali, terutama dari Angkatan ’80 Belanda,
5) Aliran yang dianut adalah romantik idealisme, dan
6) Setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan.
Ciri-ciri puisi pada angkatan pujangga baru yaitu :
1) Puisinya berbentuk puisi baru, bukan pantun dan syair lagi,
2) Bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima,
3) Persajakan (rima) merupakan salah satu sarana kepuitisan utama,
4) Bahasa kiasan utama ialah perbandingan,
5) Pilihan kata-katanya diwarnai dengan kata-kata yang indah,
6) Hubungan antara kalimat jelas dan hampir tidak ada kata-kata yang ambigu,
7) Mengekspresikan perasaan, pelukisan alam yang indah, dan tentram.
Sementa itu menurut Herman J. Waluyo (2010 : 64) mengatakan bahwa ciri-ciri puisi Pujangga Baru antara lain:
1. Bentuk atau struktur puisinya mengikuti bentuk atu struktur puisi baru seperti sonata, distichon, tersina, oktaf, dan sebagianya.
2. Pilihan kata-katanya diwarnai dengan kata-kata yang indah-indah, seperti dewangga, nan, kelam, mentari, nian, kendil, nirmala, beta, pualam, manikam, boneda dan seterusnya.
3. Kiasan yang banyak dipergunakan adalah gaya bahasa perbandingan
4. Bentuk dan struktur larik-lariknya adalah simetris. Tiap larik biasanya terdiri atas dua periode. Hal ini pengaruh puisi lama.
5. Gaya ekspresi aliran romantic Nampak dalam pengucapan perasaan, pelukisan alam yang indah tentram damai, dan keindahan lainnya.
6. Gaya puisinya diafan dan polos, sangat jelas dan lambang-lambangnya yang umum digunakan
7. Rima (persajakan) dijadikan sarana kepuitisan.
Penyair yang dapat diklasifikasikan masuk periode 1933-1945 antara lain:
1. Sutan Takdir Alisjahbana
o Dian Tak Kunjung Padam (1932)
o Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
o Layar Terkembang (1936)
o Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)
2. Hamka
o Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
o Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)
o Tuan Direktur (1950)
o Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
3. Armijn Pane
o Belenggu (1940)
o Jiwa Berjiwa
o Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
o Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
o Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)
4. Sanusi Pane
o Pancaran Cinta (1926)
o Puspa Mega (1927)
o Madah Kelana (1931)
o Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
o Kertajaya (1932)
5. Tengku Amir Hamzah
o Nyanyi Sunyi (1937)
o Begawat Gita (1933)
o Setanggi Timur (1939)
6. Roestam Effendi
o Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
o Pertjikan Permenungan
7. Sariamin Ismail
o Kalau Tak Untung (1933)
o Pengaruh Keadaan (1937)
8. Anak Agung Pandji Tisna
o Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
o Sukreni Gadis Bali (1936)
o I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)
9. J.E.Tatengkeng
o Rindoe Dendam (1934)
10. Fatimah Hasan Delais
o Kehilangan Mestika (1935)
11. Said Daeng Muntu
o Pembalasan
o Karena Kerendahan Boedi (1941)
12. Karim Halim
o Palawija (1944)
Pada periode ini terjadi perkembangan yang cukup pesat bagi dunia kepenyairan. Periode ini penyair yang terkenal adalah Amir Hamzah. Ia dikenal sebagai Raja Penyair Pujangga Baru. Ia disebut sebagai Penyair Dewa Irama. Penyair lain yang terkenal pada pujangga baru ini adalah Sutan Takdir Alisyahbana, J.E Tatengkeng, dan Asmara Hadi.
A. BIOGRAFI AMIR HAMZAH
Tengku Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera (lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911 – meninggal di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 pada umur 35 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Ia lahir dalam lingkungan keluarga bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat) dan banyak berkecimpung dalam alam sastra dan kebudayaan Melayu.
Amir Hamzah Mula-mula Amir menempuh pendidikan di Langkatsche School di Tanjung Pura pada tahun 1916. Lalu, di tahun 1924 ia masuk sekolah MULO (sekolah menengah pertama) di Medan. Setahun kemudian dia hijrah ke Jakarta hingga menyelesaikan sekolah menengah pertamanya pada tahun 1927. Amir, kemudian melanjutkan sekolah di AMS (sekolah menengah atas) Solo, Jawa Tengah, Jurusan Sastra Timur, hingga tamat. Lalu, ia kembali lagi ke Jakarta dan masuk Sekolah Hakim Tinggi hingga meraih Sarjana Muda Hukum. Kemudian ia tinggal di Pulau Jawa pada saat pergerakan kemerdekaan dan rasa kebangsaan Indonesia bangkit. Pada masa ini ia memperkaya dirinya dengan kebudayaan modern, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan Asia yang lain.
Dalam kumpulan sajak Buah Rindu (1941) yang ditulis antara tahun 1928 dan tahun 1935 terlihat jelas perubahan perlahan saat lirik pantun dan syair Melayu menjadi sajak yang lebih modern. Bersama dengan Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane ia mendirikan majalah Pujangga Baru (1933), yang kemudian oleh H.B. Jassin dianggap sebagai tonggak berdirinya angkatan sastrawan Pujangga Baru. Kumpulan puisi karyanya yang lain, Nyanyi Sunyi (1937), juga menjadi bahan rujukan klasik kesusastraan Indonesia. Ia pun melahirkan karya-karya terjemahan, seperti Setanggi Timur (1939), Bagawat Gita (1933), dan Syirul Asyar (tt.).
Amir Hamzah tidak hanya menjadi penyair besar pada zaman Pujangga Baru, tetapi juga menjadi penyair yang diakui kemampuannya dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang. Di tangannya Bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik yang terus dihargai hingga zaman sekarang.
Amir Hamzah terbunuh dalam Revolusi Sosial Sumatera Timur yang melanda pesisir Sumatra bagian timur di awal-awal tahun Indonesia merdeka. Ia wafat di Kuala Begumit dan dimakamkan di pemakaman Mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.
B. ANALISIS SAJAK “BERDIRI AKU” KARYA AMIR HAMZAH
Berdiri Aku
Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang

Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengepas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas

Benang raja mencelup ujung
Naik marah menyerang corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak

Dalam rupa maha sempurna
Rindu senda mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Mengecap hidup bertentu tuju.
(Buah Rindu: 51)

(a) Diksi
Dalam puisi Amir Hamzah selalu membuat pilihan kata yang penuh konotasi. Selain itu Amir Hamsering menggunakan kata-kata yang arkaik, sehingga pembaca akan merasa bernostalgia dengan kata-kata yang di tulisnya. Kata kata seperti, senyap, mengurai, mengempas, berayun-ayun dan sayap tergulung identik dengan kesunyian. Kata-kata tersebut membentuk makna kasendirian yang inigin digambarkan pengarang.
Kata ”maha sempurna” dalam akhir bait juga merupakan arti konotasi dari tuhan yang maha sempurna. Kata ”menyecap” memiliki arti impian yang ingin dirasakan. Permainan kata-kata yang digunakan yang ditulis memang sebuah misteri untuk menyembunyikan ide pengarang.
Kemisteriusan ini ditambah dengan pilihan kata arkaik seperti, ”marak” dan ”leka”. ”marak” itu berarti cahaya sedangkan ”leka” berarti lengah atau lalai. Walaupun kata-kata itu sudah tidak digunakan lagi dalam percakapan sehari-hari, mungkin saja kata-kata tersebut masih ada dalam percakapan sehari-hari sewaktu Amir menulis sajaknya. Selain itu dia juga menulis kata-kata yang merupakan bahasa daerah yakni ”alas” yang berasal dari bahasa Jawa yang berarti hutan. Meskipun kata-kata yang digunakan Amir ini tidak dikenali lagi, bagi Amir kata-kata itu seperti sangat puitis dan representatif untuk menyampaikan gagasannya.

(b) Efoni dan Irama
Suasana kesedihan yang ditampilkan oleh pengarang memperlihatkan efek efoni dan irama dalam puisi tersebut. Irama dan efek efoni itu membuat puisi itu lebih merdu seandainya dibaca. Walaupun banyak kata-kata yang menimbulkan kakafoni seperti aku, senja, senyap, menepis, bakau, datang, terkembang, teluk, sunyi, di atas, leka, sayap, merasa, sempurna, sentosa, tertentu, dan tuju. Walaupun kata-kata tersebut memberi kesan tidak merdu tetapi penggunan rima yang mantak dalam puisi tersebut membuat sajak menimbulkan kesan menyenangkan. Seperti bunyi bumi-sunyi, emas-alas, ujung-tergulung, corak-arak, sempurna-sentosa, kalbu-tuju mrupakan rima yang membuat sajak itu akhirnya memiliki efek efoni.
Selain itu aliterasi seperti berjulang-datang, menepuk teluk, mengempas emas, di atas alas, naik marak menyerak corak serta asonansi seperti dalam rupa maha sempurna, rindu-sedu mengharu kalbu, merasa sentosa, bertentu tuju. Huruf-huruf yang sama tersebut dapat menimbulkan kesan efoni walaupun banyak katayang berbunyi tidak merdu dengan adanya bunyi k,p,t dan s.
Selain timbul efek efoni unsur bunyi yangb berpola tersebut menimbulkan irama dalam sajak. Persamaan bunyi pada puisi ini akan menyebabkan terdengar adanya pergantian bunyi pendek, lembut dan rendah. Karena suasana kasunyian yang dituliskan penyair tak mungkin memberi irama yang tinggi dan cepat tetapi irama yang rendah atau lambat.
(c) Bahasa Kiasan
Seperti halnya puisi lama pemilihan bahasa kiasan memang sangat diperlukan untuk memperindah kata-katanya sehingga makna yang diberikan bisa lebih kaya dan mendalam. Dalam puisi ”Berdiri Aku”yang menojol adalah adanya personifikasi seperti:

Melayah bakau mengurai puncak
....................................................angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas
............................................Naik marak menyerak corak
..........................................
Dalam puisi tersebut Amir Hamzah menghidupkan ombak dan angin yang bertujuan ingin menambah rasa kesunyian dan kesendirian penyair. Seperti halnya dengan mengagumi ombak yang menerpa pohon-pohon bakau serta desir angin yang mengempakkan semuanya terlihat kalau penyair benar-benar merasa sepi dan hanya mampu melihat pemandangan sekitarnya saja.
Selain personifikasi yang dominan ada juga gaya metafora yang terlihat dari kalimat benang raja mencelup ujung dan dalam rupa maha sempurna. Penyair membandingkan apa yang dilihat dan dialami dengan kata ”benang raja” dan ”maha sempurna.
Hiperbola juga nampak dalam kalimat Rindu-sedu mengharu kalbu yang menggambarkan kesedihan dan rindu yang benar-benar mendalam. Gaya bahasa yang digunakan membuat makna puisi itu lebih mendalam dan lebih padat.

(c) Citraan
Sajak Berdiri aku ini menimbulkan imaji penglihatan ”visual imagery”, seolah-olah kita milihat suasana pantai yang indah. Keindahan terlihat dari

Camar melayang manepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
.....................................................Benang raja mencelup ujung
............................................Elang leka sayap tergulung

Dari kalimat tersebut kita disuruh melihat keindahan pantai pada sore hari yang digambarkan perngarang lewat kata-katanya. Dengan bermainnya khayal visual kita, kita akan mampu membayangkan keindahan pantai pada waktu sore yang sunyi sehingga kesedihan akan semakin terasa mencekam. Sesunyian ini ditambah lagi dengan imaji perasa yang terlihat pada bait kedua

Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas

Dalam kalimat pertama imaji kita akan merasakan kesejukan dengan kata-kata tersebuit teatapi sayang angin itulah yang menghempaskan harapan dan membawa lari sehingga yang terasa hanyalah sunyi yang semakin dalam. Dengan berbagai citraan yang mampu ditampilkan penyair ini pembaca akan ikut merasakan apa yang di tulis oleh penyair dengan inderanya sendiri.(e) Pemikiran dalam Sajak
Sajak ”Berdiri Aku” ini merupakan ekspresi kesedihan yang ditampilkan penyair dengan suasana sunyi. Kesedihan ini tidak lain dikarenakan oleh perpisahannya dengan kekasihnya dan dia harus pulang ke Medan dan menikah dengan putri pamannya. Perasaan sedih yang sangat mendalam digambarkan penyair dengan suasana sunyi pantai di sore hari. Dengan demikian penyair hanya mampu melihat keindahan alam sekitar karena kebahagiaannya dan harapan telah hilang.
Kesedihan yang mendalam ini juga wujud perasaan galau penyair yang digambarkan dengan perasaannya yang dipermainkan ombak dan angin. Sehingga hanya merenungi hiduplah yang mampu dilakukannya.
Sebagai orang yang memiliki agama yang kuat dalam setiap akhirnya dia hanya bisa menyerahkan semua yang dia alami ini kepada Tuhan. Dengan merenungi hidupnya selama ini Amir berusaha untuk mengembalikan kepada Tuhan yang memberikan kepastian dalam hidupnya. Seperti yang tergambar dalam Rindu sendu mengharu kalbu / ingin datang merasa sentosa / menyerap hidup tertentu tuju.
Dalam sajak ini tergambar suasana pesimis penyair dalam menghadapi segala permasalahan hidupnya. Suasana pesimis ini menjadikannya menjadi melankolis. Karena dari kebanyakan sajak adalah sebuah ratapan akan hidupnya dan kesedihannya dalam memikirkan nasib hidup yang baginya sudah benar-benar hancur.
Dengan sajak ini Amir Hamzah ingin menyampaikan ide dan pemikirannya melalui puisi yang dia tulis. Dia menginginkan apapun yang terjadi dalam hidup kita ini harus mernyerahkan terhadap Tuhan karena hanya dialah yang mampu memberi kepastian dalam kahidupan ini.



BAB III
PENUTUP

Perkembangan puisi Indonesia tahun 1930-1945 disebut juga sebagai angkatan pujangga baru. Penyair Angkatan Pujangga Baru mempopulerkan jenis puisi yang lazim disebut sebagai puisi baru yang meliputi soneta, distikon, kwartetrain, dan sebagainya. Penyair yang dipandang kuat pada masa pujangga baru adalah Amir Hamzah yang oleh H.B Jasin digelari Raja Penyair Pujangga Baru. Amir Hamzah juga dipandang sebagai penyair terbesar pada masa sebelum perang. Ciri-ciri puisi Pujangga Baru antara lain: (1) Bentuk atau struktur puisinya mengikuti bentuk atu struktur puisi baru seperti sonata, distichon, tersina, oktaf, dan sebagianya, (2) Pilihan kata-katanya diwarnai dengan kata-kata yang indah-indah, seperti dewangga, nan, kelam, mentari, nian, kendil, nirmala, beta, pualam, manikam, boneda dan seterusnya, (3) Kiasan yang banyak dipergunakan adalah gaya bahasa perbandingan, (4) Bentuk dan struktur larik-lariknya adalah simetris. Tiap larik biasanya terdiri atas dua periode. Hal ini pengaruh puisi lama, (5) Gaya ekspresi aliran romantic Nampak dalam pengucapan perasaan, pelukisan alam yang indah tentram damai, dan keindahan lainnya, (6) Gaya puisinya diafan dan polos, sangat jelas dan lambang-lambangnya yang umum digunakan, (7) Rima (persajakan) dijadikan sarana kepuitisan











DAFTAR PUSTAKA

Adiel. 2009. Analisis sajak berdiri aku karya Amir Hamzah. Di unduh dari http://adiel87.blogspot.com hari rabu 20 April 2011 pukul 10.00 wib

Herman J. Waluyo. 2010. Pengkajian dan apresiasi puisi. Salatiga: Widya Sari Press
Nurvidha. 2010. Sejarah pujanga baru. Di unduh dari http://nurvidha.wordpress.com hari rabu 20 April 2011 pukul 10.00 wib

Minggu, 03 April 2011

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri dilahirkan pada tanggal 24 Juni 1943 di Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Selanjutnya, ia mengirimkan sajak-sajak dan esainya ke media massa di Jakarta, seperti Sinar Harapan, Kompas, Berita Buana, majalah bulanan Horison, dan Budaya Jaya. Di samping itu, ia mengirimkan sajak-sajaknya ke surat kabar lokal, seperti Pikiran Rakyat di Bandung dan Haluan di Padang. Sutardji Calzoum Bachri selain menulis juga aktif dalam berbagai kegiatan, misalnya mengikuti International Poetry Reading di Rotterdam, Belanda (1974), mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, USA (Oktober 1974—April 1975), bersama Kiai Haji Mustofa Bisri dan taufiq Ismail, ia pernah diundang ke Pertemuan International Para Pelajar di Bagdad, Irak, pernah diundang Menteri keuangan Malaysia, Dato Anwar Ibrahim, untuk membacakan puisinya di Departemen Keuangan Malaysia, mengikuti berbagai pertemuan Sastrawan ASEAN, Pertemuan Sastrawan Nusantara di Singapura, malaysia, dan Brunei Darussalam, serta pada tahun 1997 Sutardji membaca puisi di Festival Puisi International Medellin, Columbia.Beberapa karyanya adalah O (Kumpulan Puisi, 1973), Amuk (Kumpulan Puisi, 1977), dan Kapak (Kumpulan Puisi, 1979). Selain itu, puisi-puisinya juga dimuat dalam berbagai antologi, antara lain Arjuna in Meditation (Calcutta, India, 1976), Writing from The Word (USA), Westerly Review (Australia), Dchters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststechting, 1975), Ik Wil Nogdulzendjaar Leven, Negh Moderne Indonesische Dichter (1979), Laut Biru, Langit Biru (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977), Parade Puisi Indonesia (1990), majalah Tenggara, Journal of Southeast Asean Lietrature 36 dan 37 (1997), dan Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (2002).Sementara itu, esainya berjudul Gerak Esai dan Ombak Sajak Anno 2001 dan Hujan Kelon dan Puisi 2002 mengantar kumpulan puisi “Bentara”.

Selasa, 29 Maret 2011

kegiatan KKL pascasarjana UNS




ontologi dalam filsafat ilmu

Pendahuluan Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dlaam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. Setiap manusia sangat membutuhkan ilmu, agama, dan seni sebagai tiga bidang pengetahuan yang sangat akrab dan sangat fundamental dalam kehidupan manusia, dan ketiganya sangat dibutuhkan AGAMA Agama kerap “berebutan” lahan dengan filsafat. Objek agama dalam banyak hal hampir sama dengan filsafat, hanya lebih sempit dan lebih praktis. Seperti filsafat, agama juga membahas Tuhan, manusia, dan alam. Seperti filsafat, agama juga menyoal metafisika, namun jawabannya sudah jelas: hakikat segala sesuatu adalah Tuhan. Selain Tuhan, objek pokok dari agama adalah etika khususnya yang bersifat praktis sehari-hari. Yang membedakan agama dari filsafat terutama adalah epistemologi atau metodenya. Pengetahuan agama berasal dari wahyu Tuhan yang diberikan kepada Nabi, dan kita memerolehnya dengan jalan percaya bahwa Nabi benar. Pada agama, yang harus kita lakukan adalah beriman, baru berpikir. Kita boleh memertanyakan kebenaran agama, setelah menerima dan memercayainya, dengan cara lain (rasional atau empiris). Tapi ujung-ujungnya kita tetap harus percaya meskipun apa yang disampaikan agama itu tidak masuk akal atau tidak terbukti dalam kenyataan. Jawaban yang diberikan agama atas satu masalah bisa sama, berbeda, atau bertentangan dengan jawaban filsafat. Dalam hal ini, latar belakang keberagamaan seorang filosof sangat memengaruhi. Jika ia beragama, biasanya ia cenderung mendamaikan agama dengan filsafat, seperti tampak pada filsafat skolastik, baik filsafat Yahudi, Kristen, maupun Islam. Jika ia tidak beragama, biasanya filsafatnya berbeda atau bertentangan dengan agama. Secara praktis, agama sangat fungsional dalam kehidupan manusia. Fungsi utama agama adalah sebagai sumber nilai (moral) untuk dijadikan pegangan dalam hidup budaya manusia. Agama juga memberikan orientasi atau arah dari tindakan manusia. Orientasi itu memberikan makna dan menjauhkan manusia dari kehidupan yang sia-sia. Nilai, orientasi, dan makna itu terutama bersumber dari kepercayaan akan adanya Tuhan dan kehidupan setelah mati. (Coba perhatikan, dalam Alquran, objek iman yang paling banyak disebut bahkan selalu disebut beriringan adalah iman kepada Allah dan hari kemudian). Seni Secara historis, seni dan ilmu membangkitkan keluar dari tanah yang sama, atau bahwa waktu ada ketika mereka tidak dianggap pursuits berbeda. Kemudian, dikatakan, budaya Eropa mulai memberikan posisi khusus untuk artis, gagasan "jenius" lahir dan produk seni semakin menjadi komoditas untuk pembelian dan kepemilikan. Sekitar saat ini, seni dan ilmu pengetahuan juga mulai untuk memisahkan dan cukup menunjukkan metodologi yang berbeda, produk dan fungsi sosial. Hal ini juga umumnya mengatakan bahwa interaksi antara aliran seni dan sains dalam satu arah, yang seniman menjadi tertarik dalam ilmu, metode dan konsep, dan menggabungkan mereka dengan cara yang longgar di dalam karya mereka sendiri, tetapi keuntungan sedikit ilmu apa-apa dari seni. Di sisi lain menarik untuk dicatat bahwa, dalam daftar koneksi di atas, sebuah revolusi dalam seni umumnya mendahului bahwa dalam ilmu pengetahuan dengan satu dekade atau lebih. Tapi bagaimana ini mungkin? Bagaimana ilmu dipengaruhi atau diubah oleh apa seniman? Apakah ada hubungan sebab-akibat langsung, atau seniman antena bagi masa depan yang mengantisipasi perubahan umum dalam pemikiran yang pada akhirnya akan memasuki ilmu? (Stravinsky berpendapat bahwa "artis tidak mendahului waktunya, masyarakat berada di belakang mereka.) Ini juga mungkin terjadi bahwa seni membantu kita untuk memvisualisasikan dunia dan bahwa ide-ide baru dan konsep dalam ilmu hanya menjadi "nyata" seperti yang diproyeksikan ke dalam model mental visual - yaitu ketika mereka "melihat" dalam teater pikiran. Jadi, ketika perubahan dalam seni mempengaruhi cara kita "melihat" dunia, mereka pasti mengerahkan pengaruh pada ilmu cara "melihat" alam. Pelukis Inggris Patrick Heron berpendapat bahwa seni menentukan cara kita melihat dunia. Tanpa beberapa bentuk representasi artistik, katanya, pengalaman visual kita akan kebingungan berdengung. Jadi, ketika gerakan perubahan seni demikian juga persepsi kita tentang dunia. Pernyataan Heron adalah satu kuat dan tampaknya menyiratkan bahwa perubahan kesadaran manusia bersama dengan revolusi artistik. Dalam ini mirip dengan pernyataan "kuat" dari hipotesis Whorf-Sapir dalam linguistik - bahwa bahasa menentukan cara kita melihat dunia. Tapi apa Sapir Whorf dan benar-benar mengatakan adalah bahwa bahasa dan persepsi kita tentang dunia dan tak terelakkan terkait - tidak cukup hal yang sama. Begitu juga seni benar-benar menentukan cara kita melihat dunia, dan melakukan gerakan dalam seni mencerminkan perubahan dalam kesadaran manusia - atau seluruh hal yang lebih halus dan kurang kausal terkait? Hubungan seni dan agama Agama sangat fungsional dalam kehidupan manusia sehingga agama merupakan sumber nilai untuk dijadikan pegangan dalam budaya manusia. Sedangkan seni merupakan bentuk ekspresi individu bdari imajinasi atau daya cipta. Dalam penerapannya agama dan seni merupakan satu kesatuan dalam menciptakan sdebuah imajinasi atau kreativitas dengan dilandasi sebuah agama akan menjadi lebih bermakna. Dalam perjalanan estistis berdampak internal, yaitu perubahan dalam persepsiterhadap diri sendiri dengan akibat: (!) dapat menyentuh keluhuran budi; (2) memberikan kesadaranbahwa manusia mahkluk fana dan baka; (3) memberikan kesadaran tentang derita, kasih sayang, dan cinta manusiawi; (4) mengingatkan kita akan nasib manusia ; dan (5) menjadi sarana untuk renungan yang bersifat kemanusiaan Pengalaman religious berdampak eksternal yaitu perubahan sikap dan tingkah laku manusia terhadap hidup yang sesama manusia dengan akibat timbulnya : (1)sikap penuh kerendahan hati; (2) mmemiliki rasa syukur; (3) tumbuhnya kejelasan tentang tujuan hidup; (4) terjadinya sintesis terhadap wujud kehidupan; (5) menjadikan agama sebagai fondasi kebenaran dalam diri manusia; (6) menanamkan adanya kepastian akan aturan main dalam pergaulan sesame manusia. Kesadaran yang bersifat religious bersifat ekristensial teleologis.

ontologi dalam filsafat ilmu

Pendahuluan Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dlaam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. Setiap manusia sangat membutuhkan ilmu, agama, dan seni sebagai tiga bidang pengetahuan yang sangat akrab dan sangat fundamental dalam kehidupan manusia, dan ketiganya sangat dibutuhkan AGAMA Agama kerap “berebutan” lahan dengan filsafat. Objek agama dalam banyak hal hampir sama dengan filsafat, hanya lebih sempit dan lebih praktis. Seperti filsafat, agama juga membahas Tuhan, manusia, dan alam. Seperti filsafat, agama juga menyoal metafisika, namun jawabannya sudah jelas: hakikat segala sesuatu adalah Tuhan. Selain Tuhan, objek pokok dari agama adalah etika khususnya yang bersifat praktis sehari-hari. Yang membedakan agama dari filsafat terutama adalah epistemologi atau metodenya. Pengetahuan agama berasal dari wahyu Tuhan yang diberikan kepada Nabi, dan kita memerolehnya dengan jalan percaya bahwa Nabi benar. Pada agama, yang harus kita lakukan adalah beriman, baru berpikir. Kita boleh memertanyakan kebenaran agama, setelah menerima dan memercayainya, dengan cara lain (rasional atau empiris). Tapi ujung-ujungnya kita tetap harus percaya meskipun apa yang disampaikan agama itu tidak masuk akal atau tidak terbukti dalam kenyataan. Jawaban yang diberikan agama atas satu masalah bisa sama, berbeda, atau bertentangan dengan jawaban filsafat. Dalam hal ini, latar belakang keberagamaan seorang filosof sangat memengaruhi. Jika ia beragama, biasanya ia cenderung mendamaikan agama dengan filsafat, seperti tampak pada filsafat skolastik, baik filsafat Yahudi, Kristen, maupun Islam. Jika ia tidak beragama, biasanya filsafatnya berbeda atau bertentangan dengan agama. Secara praktis, agama sangat fungsional dalam kehidupan manusia. Fungsi utama agama adalah sebagai sumber nilai (moral) untuk dijadikan pegangan dalam hidup budaya manusia. Agama juga memberikan orientasi atau arah dari tindakan manusia. Orientasi itu memberikan makna dan menjauhkan manusia dari kehidupan yang sia-sia. Nilai, orientasi, dan makna itu terutama bersumber dari kepercayaan akan adanya Tuhan dan kehidupan setelah mati. (Coba perhatikan, dalam Alquran, objek iman yang paling banyak disebut bahkan selalu disebut beriringan adalah iman kepada Allah dan hari kemudian). Seni Secara historis, seni dan ilmu membangkitkan keluar dari tanah yang sama, atau bahwa waktu ada ketika mereka tidak dianggap pursuits berbeda. Kemudian, dikatakan, budaya Eropa mulai memberikan posisi khusus untuk artis, gagasan "jenius" lahir dan produk seni semakin menjadi komoditas untuk pembelian dan kepemilikan. Sekitar saat ini, seni dan ilmu pengetahuan juga mulai untuk memisahkan dan cukup menunjukkan metodologi yang berbeda, produk dan fungsi sosial. Hal ini juga umumnya mengatakan bahwa interaksi antara aliran seni dan sains dalam satu arah, yang seniman menjadi tertarik dalam ilmu, metode dan konsep, dan menggabungkan mereka dengan cara yang longgar di dalam karya mereka sendiri, tetapi keuntungan sedikit ilmu apa-apa dari seni. Di sisi lain menarik untuk dicatat bahwa, dalam daftar koneksi di atas, sebuah revolusi dalam seni umumnya mendahului bahwa dalam ilmu pengetahuan dengan satu dekade atau lebih. Tapi bagaimana ini mungkin? Bagaimana ilmu dipengaruhi atau diubah oleh apa seniman? Apakah ada hubungan sebab-akibat langsung, atau seniman antena bagi masa depan yang mengantisipasi perubahan umum dalam pemikiran yang pada akhirnya akan memasuki ilmu? (Stravinsky berpendapat bahwa "artis tidak mendahului waktunya, masyarakat berada di belakang mereka.) Ini juga mungkin terjadi bahwa seni membantu kita untuk memvisualisasikan dunia dan bahwa ide-ide baru dan konsep dalam ilmu hanya menjadi "nyata" seperti yang diproyeksikan ke dalam model mental visual - yaitu ketika mereka "melihat" dalam teater pikiran. Jadi, ketika perubahan dalam seni mempengaruhi cara kita "melihat" dunia, mereka pasti mengerahkan pengaruh pada ilmu cara "melihat" alam. Pelukis Inggris Patrick Heron berpendapat bahwa seni menentukan cara kita melihat dunia. Tanpa beberapa bentuk representasi artistik, katanya, pengalaman visual kita akan kebingungan berdengung. Jadi, ketika gerakan perubahan seni demikian juga persepsi kita tentang dunia. Pernyataan Heron adalah satu kuat dan tampaknya menyiratkan bahwa perubahan kesadaran manusia bersama dengan revolusi artistik. Dalam ini mirip dengan pernyataan "kuat" dari hipotesis Whorf-Sapir dalam linguistik - bahwa bahasa menentukan cara kita melihat dunia. Tapi apa Sapir Whorf dan benar-benar mengatakan adalah bahwa bahasa dan persepsi kita tentang dunia dan tak terelakkan terkait - tidak cukup hal yang sama. Begitu juga seni benar-benar menentukan cara kita melihat dunia, dan melakukan gerakan dalam seni mencerminkan perubahan dalam kesadaran manusia - atau seluruh hal yang lebih halus dan kurang kausal terkait? Hubungan seni dan agama Agama sangat fungsional dalam kehidupan manusia sehingga agama merupakan sumber nilai untuk dijadikan pegangan dalam budaya manusia. Sedangkan seni merupakan bentuk ekspresi individu bdari imajinasi atau daya cipta. Dalam penerapannya agama dan seni merupakan satu kesatuan dalam menciptakan sdebuah imajinasi atau kreativitas dengan dilandasi sebuah agama akan menjadi lebih bermakna. Dalam perjalanan estistis berdampak internal, yaitu perubahan dalam persepsiterhadap diri sendiri dengan akibat: (!) dapat menyentuh keluhuran budi; (2) memberikan kesadaranbahwa manusia mahkluk fana dan baka; (3) memberikan kesadaran tentang derita, kasih sayang, dan cinta manusiawi; (4) mengingatkan kita akan nasib manusia ; dan (5) menjadi sarana untuk renungan yang bersifat kemanusiaan Pengalaman religious berdampak eksternal yaitu perubahan sikap dan tingkah laku manusia terhadap hidup yang sesama manusia dengan akibat timbulnya : (1)sikap penuh kerendahan hati; (2) mmemiliki rasa syukur; (3) tumbuhnya kejelasan tentang tujuan hidup; (4) terjadinya sintesis terhadap wujud kehidupan; (5) menjadikan agama sebagai fondasi kebenaran dalam diri manusia; (6) menanamkan adanya kepastian akan aturan main dalam pergaulan sesame manusia. Kesadaran yang bersifat religious bersifat ekristensial teleologis.

Sabtu, 26 Maret 2011

TRADISI SEKATEN DI KERATON KASUNANAN

BAB I
PENDAHULUAN
Upacara tradisi merupakan bagian dari adat istiadat yang merupakan salah satu upaya masyarakat Jawa untuk menjaga keharmonisan dengan alam, dunia roh, dan sesamanya (Danandjaja, 1997). Sebagai perwujudan dari itu, Keraton Kasunanan Surakarta sekarang ini masih memiliki beranekaragam hasil kebudayaan. Hal tersebut masih tercermin dengan dilakukannya beberapa upacara tradisional, di antaranya upacara jamasan pusaka, sekaten, upacara labuhan, upacara garebeg besar, sesaji mahesa, lawung, dan lain sebagainya. Upacara tradisional tersebut masih terpelihara dengan baik.
Keraton Kasunanan Surakarta merupakan sebuah kerajaan Islam. Dalam agama Islam, Nabi Muhammad SAW merupakan Rasul pembawa ajaran Islam di muka bumi sehingga hari kelahiran beliau diperingati oleh umat Islam, karena Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa kebenaran. Selain itu, dalam ajaran Islam disebutkan bahwa orang harus selalu bersyukur atas segala sesuatu yang telah diberikan oleh Tuhan. Oleh sebab itu, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, Keraton Kasunanan Surakarta mengemasnya dalam bentuk upacara tradisional. Salah satu budaya tradisional yang hingga saat ini tetap dipertahankan keberadaannya adalah Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta. Pada dasarnya upacara tradisi ini merupakan upacara memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Upacara tersebut sebagai wujud rasa syukur tersebut diadakan setiap tahun sekali dalam penyelenggaraan Sekaten. Perayaan Sekaten ini diadakan setiap 12 Mulud atau 12 Rabiul Awal (Rahmawati, 2002).
Pada zaman dahulu, orang Jawa menyukai gamelan maka pada saat hari raya Islam itu di dalam masjid diadakan penabuhan gamelan agar orang-orang menjadi tertarik. Jika masyarakat sudah berkumpul lalu diberi pelajaran tentang agama Islam. Untuk keperluan itu para wali menciptakan seperangkat gamelan yang dinamai Kiai Sekati. Usul dari Sunan Kalijaga tersebut disepakati oleh wali lainnya yaitu pada hari lahir Nabi Muhammad SAW dalam masjid dipukul gamelan. Ternyata banyak orang datang ke masjid untuk mendengarkan gamelan Sekaten (Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari) yang dibunyikan mulai pada tanggal 5 Rabiul Awal pukul empat sore di Pendopo Masjid Agung. Pada puncak acaranya tepat tanggal 12 Rabiul Awal diadakan Garebeg yaitu upacara selamatan dengan dikeluarkannya gunungan dari keraton. Dari sinilah raja mengeluarkan sepasang gunungan (kakung dan putri) yang bermakna keselamatan dan pembawa berkah.
Kajian mengenai cerita rakyat dari berbagai daerah memang sudah sering dilakukan, tetapi setiap masyarakat memiliki keanekaragaman cerita rakyat sendiri yang berbeda dengan cerita rakyat masyarakat lainnya. Kajian Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta ini dilakukan untuk menggali dan mendokumentasikan keanekaragaman cerita rakyat yang dimiliki masyarakat Indonesia pada umumnya dan cerita rakyat daerah untuk memperkaya kebudayaan nasional, sampai kapan pun kajian cerita rakyat dari berbagai daerah di tanah air Indonesia akan tetap dilakukan. Upaya pelestarian budaya ini diharapkan dapat menimbulkan rasa bangga dan memiliki budaya nasional, sehingga pewarisan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam cerita tersebut dapat menanamkan nilai budi pekerti sebagai penyaring budaya asing yang tidak sesuai dengan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia.
Kajian ini dilakukan sebagai upaya untuk mewariskan karya-karya para leluhur kepada para generasi baru sehingga dapat melestarikan dan mengembangkan khasanah kehidupan sastra daerah di tengah-tengah persaingan budaya-budaya lain. Sebab sastra daerah merupakan akar budaya bangsa, cermin jati diri bangsa dan sekaligus merupakan aset bangsa. Oleh karenanya, cerita rakyat tersebut perlu adanya penyebarluasan serta pendokumentasian agar kemurnian cerita aslinya tidak punah.
Bangsa yang tinggi adalah bangsa yang menghargai karya-karya leluhur yang diwariskan kepadanya. Sebagai wujud atas penghargaan tersebut yaitu dengan cara melestarikannya. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk melestarikan warisan itu, di antaranya adalah dengan cara mengajarkan kepada generasi-generasi baru.
Apalagi fenomena yang terjadi, bahwa bentuk folklor yang merupakan kekayaan budaya nasional belum tergali sepenuhnya di tanah air tercinta ini. Upacara Tradisi Sekaten mempunyai folkor yang sarat dengan nilai. Namun, sebagian besar masyarakat Surakarta sebagai pemilik folklor tidak mengetahui cerita rakyat yang melatarbelakangi Upacara Tradisi Sekaten tersebut. Penyebarluasan cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten ini sangat penting untuk menjaga agar tidak punah dan mengajarkan kepada generasi muda merupakan cara yang tepat. Agar mengetahui bahwa daerah Surakarta memiliki kekayaan budaya yang dapat digali seperti Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta yang memiliki cerita rakyat yang melatarbelakangi upacara tersebut.
















BAB II
KAJIAN TEORI
A. Upacara Tradisi Sekaten
G.P.H. Puger (2002: 1) menjelaskan tentang asal mula dan maksud perayaan yang diadakan tiap-tiap tahun baik di Surakarta maupun di Yogyakarta. Asal mula Sekaten dimulai pada zaman Demak, zaman mulainya kerajaan Islam di tanah Jawa. Sekaten diadakan sebagai salah satu upaya dalam menyiarkan agama Islam. Karena orang Jawa pada waktu itu menyukai gamelan maka pada hari raya Islam yaitu pada hari lahirnya Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung dipukul gamelan sehingga orang berduyun-duyun datang di halaman masjid untuk mendengarkan pidato-pidato tentang agama Islam.
Menurut Supanto (1982: 6), upacara tradisional sebagai pranata sosial penuh dengan simbol-simbol yang berperanan sebagai alat komunikasi antarsesama warga masyarakat dan juga merupakan penghubung antara dunia nyata dengan dunia gaib. Bagi para warga yang ikut berperan serta dalam penyelenggaraan upacara tradisional, unsur-unsur yang berasal dari dunia gaib menjadi tampak nyata melalui pemahamannya terhadap simbol-simbol tersebut. Upacara tradisional biasanya diadakan dalam waktu-waktu tertentu. Ini berarti menyampaikan pesan yang mengandung nilai-nilai kehidupan itu harus diulang-ulang terus, demi terjaminnya kepatuhan para warga masyarakat terhadap pranata-pranata sosial yang berlaku.
Salah satu bentuk tradisi yang masih dipertahankan ialah Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta. Sekaten berasal dari bahasa Arab, yaitu “syahadatain” yaitu kalimat syahadat yang merupakan suatu kalimat yang harus dibaca oleh seseorang untuk masuk Islam, yang mempunyai arti: Tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Sekaten selain berasal dari kata syahadatain juga berasal dari kata 1) Sahutain : menghentikan atau menghindari perkara dua, yakni sifat lacur dan menyeleweng; 2) Sakhatain : menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan dan sifat setan, karena watak tersebut sumber kerusakan; 3) Sakhotain : menanamkan perkara dua, yaitu selalu memelihara budi suci atau budi luhur dan selalu menghambakan diri pada Tuhan; 4) Sekati : setimbang, orang hidup harus bisa menimbang atau menilai hal-hal yang baik dan buruk; dan 5) Sekat : batas, orang hidup harus membatasi diri untuk tidak berbuat jahat serta tahu batas-batas kebaikan dan kejahatan (Handipaningrat, tt : 3).
B. Nilai Simbolis
Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta (2003: 654), simbol atau lambang ialah sesuatu seperti tanda, lukisan, perkataan, lencana, dan sebagainya yang mengatakan sesuatu hal atau mengandung maksud tertentu, misalnya warna putih ialah lambang kesucian dan gambar padi sebagai kemakmuran.
The Liang Gie (dalam Sutarjo, 1998: 8), mendefinisikan nilai sebagai suatu cita-cita, dan cita-cita mutlak yang terkenal dalam filsafat adalah hal yang benar, hal yang baik dan hal yang indah. Pengertian nilai secara sempit sering diasosiasikan sebagai etika tradisisonal yang ruang lingkupnya berkisar pada kesejajaran antara yang baik dan yang buruk. Nilai adalah sesuatu yang dapat digunakan sebagai tolok ukur atau pedoman, tuntutan yang baik dalam kehidupan masyarakat. Nilai berfungsi sebagai pengarah dan pendorong seseorang dalam melakukan perbuatan. Dengan demikian, nilai dapat menimbulkan tekad bagi yang bersangkutan yang diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari.
Simbolisme sangat menonjol peranannya dalam tradisi atau adat istiadat. Simbolisme ini terlihat dalam upacara-upacara adat yang merupakan warisan turun-temurun dari generasi yang tua ke generasi berikutnya yang lebih muda. Kata simbol berasal dari kata Yunani symbolis yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang (Herusatoto, 1987 : 10). Sejalan dengan pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia (Moeliono,1999 : 630), bahwa “simbol atau lambang ialah 1) sesuatu seperti tanda (lukisan, lencana, dan sebagainya) yang mengatakan sesuatu hal atau mengandung maksud tertentu, misalnya gambar tunas kelapa lambang pramuka, warna biru lambang kesetiaan; dan 2) simbol bisa berarti tanda pengenal tetap yang menyatakan sifat, keadaan, dan sebagainya, seperti peci putih dan serban ialah lambang haji.”
Segala bentuk dan macam kegiatan simbolik dalam masyarakat tradisional pada dasarnya upaya pendekatan manusia kepada Tuhannya, yang menciptakan, menurunkannya ke dunia, memelihara hidup, dan menentukan kematian manusia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa simbolisme dalam masyarakat tradisional di samping membawakan pesan-pesan kepada generasi berikutnya juga selalu dilaksanakan dalam kaitannya dalam religi (Herusatoto, 1987 : 30-31). Unsur unsur dari kebudayaan yang paling menonjolkan sistem klasifikasi simbolik orang Jawa menurut Koentjaraningrat adalah bahasa dan komunikasi, kesenian dan kesusasteraan, keyakinan keagamaan, ritual, ilmu gaib serta beberapa pranata dalam organisasi sosialnya. (1984: 428).
C. Globalisasi
Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya. Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain-lain akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme terhadap bangsa.





















BAB III
PEMBAHASAN
A. Cerita Rakyat yang Melatarbelakangi Upacara Tradisi Sekaten
Untuk mengetahui asal mula sekaten yang tiap tahun diadakan di Keraton Kasunanan Surakarta maka harus memulainya dari zaman Demak. Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam yang di Jawa yang berdiri setelah Majapahit runtuh pada tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi. Keruntuhan Majapahit diperingati dengan candrasengkala ”Sirna Hilang Kertaning Bumi”. Berakhirnya Kerajaan Majapahit berarti berakhir pula Kerajaan Hindu di Jawa, di bawah pemerintahan Prabu Brawijaya V. Raja Demak yang pertama adalah Raden Patah yang bergelar Sultan Bintara.
Raden Patah akhirnya mengadakan suatu pertemuan dengan para wali yang berjumlah sembilan, yaitu Sunan Ampel (Raden Rahmad), Sunan Gresik (Malik Ibrahim), Sunan Giri (Raden Paku), Sunan Bonang (Makdum Ibrahim), Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, dan Sunan Gunung Jati. Untuk membahas cara menyiarkan Islam di tanah Jawa, Sunan Kalijaga mempunyai usul tentang penyiaran agama Islam agar diterima oleh masyarakat yang sejak dahulu memeluk agama Hindu. Usul Sunan Kalijaga tersebut adalah dengan membiarkan tetap dilaksanakannya adat atau tata cara dalam agama Hindu, tetapi dimasuki pelajaran Islam.
Usul dari Sunan Kalijaga tersebut disepakati oleh wali yang lainnya dan Raden Patah, yaitu pada hari lahir Nabi Muhamad yaitu pada 12 Mulud, dalam masjid dipukul gamelan. Tanggal 12 Mulud selain merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW juga merupakan hari wafat beliau. Ternyata banyak orang yang berduyun-duyun datang ke masjid untuk mendengarkan bunyi gamelan. Orang-orang tersebut datang ke masjid walaupun rumahnya jauh, sehingga mereka bermalam di alun-alun atau sekitar masjid.
Pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW tersebut, selain rakyat, para bupati pesisir juga datang ke kota kerajaan untuk memberi sembah pada raja. Mereka datang beberapa hari sebelum tanggal 12 Mulud dan membuat rumah di alun-alun untuk bermalam. Pada tanggal 12 Mulud tersebut, bupati menghadap raja dan kemudian menggiring raja ke masjid. Karena banyaknya orang yang menggiring raja tersebut, timbul perkataan Garebeg yang berasal dari kata anggrubyung yang berarti menggiring.
Orang-orang yang datang di halaman masjid disuruh untuk mendengarkan pidato-pidato tentang ajaran agama Islam yang mudah-mudah dahulu. Pertama, mereka diberi tahu maksudnya syahadat dan bagaimana bunyinya. Dari itulah timbul kata sekaten yang berasal dari bahasa Arab syahadatain. Kalimat syahadat merupakan suatu kalimat yang harus dibaca oleh seseorang untuk masuk Islam, yang mempunyai arti: tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat syahadat itu juga ditulis di atas pintu gerbang masjid. Karena banyak orang yang datang berduyun-duyun ke masjid dan banyak yang bermalam maka banyak pula orang yang berjualan di sekitar masjid dan alun-alun
B. Prosesi dan Nilai Simbolis dalam Upacara Tradisi Sekaten
Perayaan sekaten dimulai pada tanggal 5 Rabiul Awal dan berakhir dengan Garebeg Mulud tanggal 12 Rabiul Awal yang ditandai dengan keluarnya gunungan. Gunungan berasal dari kata gunung, terdiri dari berbagai jenis makanan dan sayuran yang diatur bersusun meninggi menyerupai gunung.
Pada hari pertama perayaan sekaten tanggal 5 Rabiul Awal, diawali dengan dikeluarkannya dua buah gamelan yang merupakan peninggalan zaman Demak dari dalam keraton. Dua buah gamelan itu dibawa dari dalam keraton lewat alun-alun kemudian dibawa ke Masjid Agung. Sebelum dikeluarkan dari keraton diadakan selamatan dengan diberi doa terlebih dahulu dan diberi sesajen. Setelah diadakan serah terima dari utusan keraton kepada penghulu masjid, gamelan ditempatkan di Bangsal Pradonggo di selatan dan utara halaman muka Masjid Agung Surakarta. Gamelan mulai dibunyikan ketika sudah ada utusan dari keraton yang memerintahkan untuk membunyikan gamelan, yaitu pada pukul 16.00. Dua buah gamelan tersebut bernama Kiai Guntur Madu, yaitu berada di sebelah selatan yang melambangkan syahadat tauhid. Kiai Guntur Madu merupakan peninggalan Pakubuwana IV, yaitu tahun 1718 Saka yang ditandai dengan sengkalan Naga Raja Nitih Tunggal. Gamelan yang lainnya bernama Kiai Guntur Sari, berada di sebelah utara dan melambangkan syahadat Rosul. Kiai Guntur Sari merupakan peninggalan Sultan Agung Hanyokusumo pada tahun 1566 Saka. Selama perayaan sekaten selama satu minggu, Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari ditabuh secara bergantian.
Pada tanggal 5 Rabiul Awal tersebut, sebagai awal perayaan sekaten, yang lebih dulu ditabuh adalah Kiai Guntur Madu dengan memperdengarkan gending Rambu. Rambu berasal dari bahasa Arab Robbuna yang berarti Allah Tuhanku. Rambu mengisyaratkan gending yang ditabuh khusus untuk penghormatan kepada Tuhan. Kiai Guntur Sari memperdengarkan gending Rangkung yang berasal dari bahasa Arab Roukhun yang berarti jiwa besar atau jiwa yang agung. Rangkung menurut etimologi atau lebih tepatnya kerata basa atau jarwa dhasaknya berasal dari kata ‘barang kakung’ yang menginterpretasikan pada seorang Nabi, Khalifah, dan Raja-Raja Mataram yang kesemuanya laki-laki. Menurut G.P.H. Puger berpendapat bahwa gending-gending yang pertama dibunyikan, Rambu dan Rangkung adalah nama dua jin Islam yang berbincang dan sangat setuju atas usaha yang dilakukan Walisanga dalam penyebaran agama Islam melalui media gamelan.
Gamelan sekaten yang mulai dibunyikan pada tanggal 5 Rabiul Awal pukul 16.00 merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak orang sehingga masyarakat mulai berbondong-bondong datang ke Masjid Agung untuk mendengarkan gamelan dipukul pertama kalinya. Menurut kepercayaan masyarakat, barang siapa yang memakan sirih tepat pada saat gamelan sekaten berbunyi untuk pertama kalinya akan awet muda sehingga banyak orang yang berjualan sirih pada perayaan sekaten. Namun G.P.H. Puger menanggapi mitos tersebut dengan pemikiran yang logis. Diungkapkannya bahwa pernyataan mitos yang sangat dipercaya masyarakat tersebut menandakan pada zaman dahulu sudah dikenal adanya ilmu kesehatan. Terbukti bahwa masyarakat dianjurkan makan sirih yang mempunyai banyak fungsi untuk kesehatan tubuh karena kandungan sirih tersebut dapat mengobati berbagai macam penyakit, menyehatkan gigi, berfungsi dalam pencernaan, dan akan menyegarkan badan. Selain itu, jika musim sekaten tiba di areal halaman Masjid Agung akan dipenuhi oleh penjual yang ikut meramaikan perayaan sekaten dengan menjual berbagai makanan ataupun berbagai barang khas dari sekaten, seperti misal telur asin, jenang, sirih, pecut, dan mainan anak-anak.
Kemudian dua buah gamelan tersebut dibunyikan secara bergantian tiap harinya selama perayaan sekaten. Gamelan tersebut tiap pagi mulai dibunyikan pada pukul sembilan, waktu Ashar dan Dzuhur berhenti, kemudian mulai lagi dan berhenti lagi waktu Maghrib dan Isya. Setelah Isya dibunyikan lagi sampai pukul 24.00. Bila perayaan sekaten jatuh pada hari Jumat, gamelan tidak dibunyikan mulai Maghrib sampai siang, karena hari Jumat merupakan hari mulia bagi orang Islam. Gamelan tersebut berhenti pada waktu-waktu sholat karena memberikan kesempatan kepada penabuh gamelan maupun bagi masyarakat yang mendengarkannya untuk menjalankan kewajiban sholat sehingga fungsi perayaan sekaten sebagai syiar Islam tetap terpelihara.
Setelah perayaan sekaten berlangsung tujuh hari maka tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal, yaitu hari lahir Nabi Muhammad SAW diadakan upacara Garebeg yaitu upacara selamatan dengan dikeluarkannya gunungan dari keraton. Gunungan dibuat beberapa hari sebelum perayaan Garebeg Mulud oleh abdi dalem khusus yang ditunjuk oleh sinuhun. Gunungan tersebut dikeluarkan dari keraton menuju Masjid Agung. Dari sinilah raja mengeluarkan sepasang gunungan pada waktu perayaan sekaten, yaitu gunungan kakung dan gunungan putri.
Doa yang dipanjatkan kepada Allah sebelum gunungan itu diperebutkan oleh masyarakat, dipimpin oleh penghulu keraton di dalam masjid. Adapun doa yang dipanjatkan dalam upacara pada gunungan itu intinya untuk memohon keselamatan pada diri Sinuhun, istri, dan para putranya, pejabat, serta rakyat semuanya sehingga dapat menjalani hidup dengan aman, tenteram, nyaman, sejahtera, dan bahagia di dalam perlindungan negara yang adil dan makmur.
Pada perayaan sekaten Sinuhun berkenan datang ke Masjid Agung untuk ikut berdoa bersama atas gunungan tersebut sebagai rasa syukur Sinuhun kepada Allah SWT. Setelah diberi doa oleh penghulu keraton dan juga disaksikan oleh Sinuhun, gunungan tersebut dibagikan kepada semua yang hadir, tidak ketinggalan dikirimkan kepada Sinuhun, para sentana dalem, dan para punggawa kerajaan. Kemudian gunungan tersebut dibawa keluar dari Masjid Agung untuk diberikan kepada rakyat. Karena banyak rakyat yang ingin mendapatkan gunungan itu maka mereka memperebutkan gunungan itu dengan dirayah. Hal itu terjadi karena telah menjadi kepercayaan masyarakat bahwa isi gunungan tersebut dapat mendatangkan berkah bagi siapa yang memperolehnya. Masyarakat yang datang berasal dari berbagai daerah bahkan dari luar Surakarta, seperti Klaten, Sukoharjo, Tawangmangu, Kartasura, Boyolali, Sragen, Karanganyar, dan kebanyakan adalah orang tua bahkan lanjut usia. Masyarakat yang ikut meramaikan sekaten adalah orang tua atau sepuh dari berbagai daerah yang datang untuk rayahan gunungan sekaten. Antusias yang masih begitu besar itu menandakan bahwa Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta masih banyak masyarakat pendukungnya. Untuk meramaikannya, satu bulan sebelum perayaan sekaten disambut dengan keramaian berbagai sektor dagang yang dipusatkan di halaman Masjid Agung Surakarta. Masyarakat dari berbagai daerah memanfaatkan pula momentum sekaten untuk berjualan yang merupakan ladang hangat dalam sektor ekonomi.
Dalam Upacara Tradisi Sekaten terdapat gunungan yang merupakan simbol atau lambang yang bermakna positif. Berbagai jenis makanan yang disiapkan dalam gunungan tersebut mengandung nilai-nilai luhur dan harapan yang baik bagi masyarakat pendukungnya. Terdapat 22 nilai simbolis yang terkandung dalam setiap makanan atau sesaji yang terdapat dalam gunungan, canthangbalung, sirih, dan pecut yang terdapat pada Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta.
Gunungan kakung; gunungan bermakna kesuburan, gunungan kakung melambangkan sifat baik, sedangkan gunungan putri melambangkan sifat buruk. Dua sifat ini bila berdiri sendiri akan menimbulkan sifat perusak sehingga dua sifat ini harus disatukan. Bendera merah putih; bendera ini ditempatkan pada ujung gunungan, berjumlah lima buah sebagai lambang sebuah negara atau kerajaan. Warna merah bermakna semangat atau kebenaran sedangkan warna putih berarti suci. Warna merah putih mengingatkan akan Kerajaan Majapahit dengan istilah gula klapa yang melambangkan bahwa orang harus mempunyai sifat dan semangat keberanian serta kesucian.
Cakra; cakra sebagai puncak dari pangkal berdirinya gunungan mempunyai makna gaman atau pusaka milik dari Prabu Kresna yang mempunyai kekuatan dahsyat dalam menegakkan keutamaan. Selain itu cakra sebagai simbol dari hati yang merupakan petunjuk dan pemimpin dalam kehidupan. Perjalanan cakra adalah berputar yang bermakna bahwa roda kehidupan manusia itu selalu berputar, manusia harus selalu ingat kepada Tuhan dalam keadaan senang maupun susah. Wapen; wapen merupakan simbol yang digunakan sebagai lambang. Wapen dalam gunungan yang dimaksud adalah petunjuk bagi keselamatan dan kekuasaan dari Raja Surakarta yang bertahta.
Kampuh; kampuh adalah kain berwarna merah putih yang menutupi jodhang (tempat makanan) yang bermakna kesusilaan. Kampuh dibuat sebagus mungkin yang membuktikan kepribadian, pepatah Jawa mengatakan ajining salira saka busana yang berarti dihormatinya seseorang karena pakaiannya. Sandang, yang berarti pakaian yang dipakai oleh manusia. Pakaian melambangkan kenyataan hidup (senang-susah, beja-cilaka).
Entho-entho; makanan berbentuk bulat telur yang terbuat dari tepung beras ketan yang dikeringkan hingga keras, kemudian digoreng. Hal ini bermakna keteguhan hati dalam menghadapi masalah kehidupan dunia. Telur asin; melambangkan amal, adapun makna lain bahwa terbagi dua bagian, bagian kuning melambangkan laki-laki, dan bagian putih adalah perempuan. Kemudian keduanya bersatu dan terjadi manusia baru. Nasi; melambangkan kemakmuran dari sebuah kerajaan. Bahan perlengkapan dalam gunungan kakung seperti tebu, cabe, daun pisang, terong, wortel, timun, kacang panjang dan daging yang kesemuanya merupakan hasil dari bumi yang dinikmati manusia. Selain itu, juga dami (batang padi), jodhang, sujen, peniti, jarum bundel, dan samir jene. Bahan-bahan hasil bumi tersebut merupakan lambang dari kesuburan bumi.
Gunungan putri; bentuk gunungan putri dihubungkan dengan yoni atau alat vital perempuan. Gunungan putri melambangkan putri sejati yang menggambarkan bahwa seorang wanita harus memiliki badan dan pikiran yang dingin sehingga dia mempunyai penangkal untuk menahan isu-isu yang datang dari luar, baik yang menjelek-jelekkan dirinya maupun keluarganya dan dapat menyimpan rahasia manusia atau keluarganya. Eter; terbuat dari seng berbentuk jantung manusia atau bunga pisang (tuntut) yang bermakna sebagai api yang menyala, yaitu semangat hidup yang menyala terus sebagaimana modang (dalam batik menggambarkan nyala api atau uriping latu). Eter juga berwujud jantung yang merupakan pusat kebatinan atau rohani, hal ini ada pertimbangan kewajiban lahir batin atau dengan Allah dan sesama manusia.
Bunga sebagai pengharum; mempunyai dua makna yang terkandung di dalamnya, yaitu makna lahiriah dapat mendekatkan atau mendatangkan berkah bagi yang cocok dan menjauhkan bagi yang tidak cocok, sedangkan makna batiniah yaitu kemuliaan atau keharuman jati diri manusia yang diperoleh dengan amal yang baik. Jajan; terdiri dari jadah, wajik, dan jenang sebagai isi dari jodhang yang menggambarkan hasil karya wanita dalam dapur atau rumah tangga. Uang logam; bermakna sebagai sarana memperoleh kebutuhan lahiriah manusia dalam hidup di dunia, dan bermakna batiniah sebagai simbol cobaan atau ujian hidup manusia yang dapat menggunakan dan mendatangkan keresahan bagi yang dapat menggunakan dan mendatangkan keresahan bagi yang tidak dapat menggunakan. Gunungan anakan; bermakna bahwa anak dari sebuah rumah tangga yang sudah tentu diharapkan oleh orang tuanya, anak dapat menyambung sejarah keluarga atau dapat mikul dhuwur mendhem jero, artinya menjunjung harkat dan martabat orang tua dengan cara menjaga nama baik orang tua atau dalam agama Islam dikenal dengan istilah anak sholeh yang berbakti dan mau mendoakan orang tuanya dilambangkan dengan tuntut atau eter kecil.
Ancak cantaka; merupakan sedekah para abdi dalem dan kerabat keraton yang dikeluarkan oleh raja karena mereka ada di dalam lindungan-Nya. Melambangkan kehidupan yang makmur tercukupi kebutuhan jasmani dan rohani. Terbinanya kehidupan beragama dan tersedianya kebutuhan di dunia yaitu sandang, pangan, dan papan. Sega uduk atau nasi gurih dengan perlengkapan daging ayam (ingkung), kedelai, dan pisang raja, maksudnya sebagai lambang kehidupan yang enak atau baik, sedangkan yang dituju adalah untuk para Nabi dan wali.
Sega janganan atau nasi sayuran; Melambangkan kehidupan tercukupi (duniawi), sedangkan yang dituju adalah para roh dan danyang. Dalam kejawen dikenal dengan kiblat papat lima pancer yang mempengaruhi kehidupan manusia. Sega asahan; bermakna untuk menyucikan lahir dan batin. Buah-buahan atau jajan pasar; bermakna sebagai penolak balak atau menyingkirkan segala sumber bahaya atau bencana yang akan terjadi. Sirih; menurut kepercayaan masyarakat, barang siapa yang memakan sirih tepat pada saat gamelan sekaten berbunyi untuk pertama kalinya akan awet muda. Oleh karena itu, banyak orang yang berjualan sirih pada perayaan sekaten. Canthangbalung; adalah abdi dalem yang bertugas membuat orang lain menjadi gembira. Disebut Canthangbalung karena mereka membawa kepyak dari tulang yang diselipkan pada jari-jari dan selalu dibunyikan dengan irama “crek, crek, crek”.
C. Ketahanan Tradisi Sekaten dalam Globalisasi
Memang harus diakui bahwa ancamanan globalisasi tak bisa dihindari. Ketahanan budaya ini tentu harus selalu kita artikan secara dinamis, di mana unsur-unsur kebudayaan dari luar ikut memperkokoh unsur-unsur kebudayaan lokal. Ketahanan budaya, pada dasarnya kita berbicara pula mengenai pelestariannya dan pengembangannya secara dinamis dengan upaya-upaya yang lebih khusus.
Dalam era globalisasi tradisi sekaten masih tetap kental. Nilai-nilai simbolis dalam perayaan tersebut tidak mengalami perubahan yang begitu berarti. Masih banyak masyarakat yang selalu datang dalam tradisi sekaten. Tetapi bagi generasi muda sekaten tak sekedar ajang pasar malam tahunan yang diadakan di lingkungan masjid agung Surakarta dan Alun-Alun Utara Keraton Surakarta. Bahkan generasi muda sekarang kurang begitu memahami makna simbolis dari tradisi Sekaten.
Padahal banyak sekali nilai-nilai budi pekerti yang bisa kita ambil dari upacara tradisi sekaten ini. Ini dikarenakan cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten yang berkembang dalam masyarakat Surakarta ini tidak dimasukkan dalam bahan pembelajaran di sekolah sekolah yang ada di Surakarta dan sekitarnya. Sehingga anak-anak sekarang kurang begitu paham dari makna simbolis upacara tradisi sekaten.








BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Cerita rakyat yang melatarbelakangi diadakannya Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta dimulai dengan berdirinya kerajaan Islam yang pertama, yaitu Demak, dengan Raja Islam yang pertama, Raden Patah. Beliau berusaha menyinari seluruh pelosok negeri dengan agama Islam. Bersama dengan Walisanga, Raden Patah mendirikan Masjid Agung di Demak. Kemudian masjid tersebut digunakan sebagai sarana dakwah dan penyebarluasan Islam, dengan memadukan budaya setempat. Dibuatlah suatu momentum bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, di dalam masjid diadakan dakwah dengan menggunakan media gamelan sehingga terjadilah suatu keramaian, masyarakat banyak yang datang dan sesampai di masjid mereka di- syahadat-kan. Banyak masyarakat yang tertarik sehingga kemudian lama-lama momentum ini disebut dengan sahadatan atau sekaten.
Prosesi Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta dilaksanakan bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tanggal 5 sampai dengan 12 Rabiul Awal.. Pada hari pertama perayaan sekaten tanggal 5 Rabiul Awal, diawali dengan dikeluarkannya dua buah gamelan yang merupakan peninggalan zaman Demak dari dalam keraton. Dua buah gamelan itu dibawa dari dalam keraton lewat alun-alun kemudian dibawa ke Masjid Agung. Sebelum dikeluarkan dari keraton diadakan selamatan dengan diberi doa terlebih dahulu dan diberi sesajen. Setelah diadakan serah terima dari utusan keraton kepada penghulu masjid, gamelan ditempatkan di Bangsal Pradonggo di selatan dan utara halaman muka Masjid Agung Surakarta. Gamelan mulai dibunyikan ketika sudah ada utusan dari keraton yang memerintahkan untuk membunyikan gamelan, yaitu pada pukul 16.00. Dua buah gamelan tersebut bernama Kiai Guntur Madu, yaitu berada di sebelah selatan yang melambangkan syahadat tauhid. Kiai Guntur Sari di sebelah utara Pendopo Masjid Agung yang melambangkan syahadat Rosul. Gamelan sekaten yang mulai dibunyikan pada tanggal 5 Rabiul Awal pukul 16.00 merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak orang sehingga masyarakat mulai berbondong-bondong datang ke Masjid Agung untuk mendengarkan gamelan dipukul pertama kalinya. Kemudian dua buah gamelan tersebut dibunyikan secara bergantian tiap harinya selama perayaan sekaten. Gamelan tersebut tiap pagi mulai dibunyikan pada pukul sembilan, waktu Ashar dan Dzuhur berhenti, kemudian mulai lagi dan berhenti lagi waktu Maghrib dan Isya. Setelah Isya dibunyikan lagi sampai pukul 24.00. Setelah perayaan sekaten berlangsung tujuh hari maka tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal, yaitu hari lahir Nabi Muhammad SAW diadakan upacara Garebeg yaitu upacara selamatan dengan dikeluarkannya gunungan dari keratin.
Nilai simbolis yang telah diteliti terdiri dari 22 nilai yaitu 1) adanya hidup itu harus ada bapak dan ibu yang semuanya pada dasarnya merupakan kehendak Tuhan, disimbolkan dengan gunungan kakung dan gunungan putri; 2) bahwa orang harus mempunyai sifat dan semangat keberanian serta kesucian dilambangkan dengan bendera merah putih; 3) manusia harus selalu ingat kepada Tuhan dalam keadaan senang maupun susah, merupakan simbol dari cakra; 4) petunjuk bagi keselamatan dan kekuasaan dari raja Surakarta yang bertahta terkandung dalam makna wapen; 5) sebagai simbol pakaian jasmani dan rohani manusia adalah kampuh; 6) keteguhan hati dalam menghadapi masalah kehidupan dunia dilukiskan dengan entho-entho; 7) telur asin melambangkan laki-laki dan perempuan yang bersatu dan terjadinya manusia baru; 8) kemakmuran dari sebuah kerajaan dilambangkan dengan nasi; 9) bahan hasil bumi merupakan lambang kesuburan bumi; 10) gunungan putri melambangkan putri sejati, 11) semangat hidup dan pertimbangan kewajiban lahir batin dengan Tuhan dan sesama manusia dilihat dari eter; 12) mendatangkan berkah dan kemuliaan jati diri manusia yang diperoleh dari amal baik terwakili oleh bunga; 13) menggambarkan hasil karya wanita dalam dapur atau rumah tangga terwakili oleh jadah, wajik, dan jenang; 14) sebagai sarana memperoleh kebutuhan lahiriah manusia dalam hidup di dunia dan bermakna batiniah sebagai cobaan hidup manusia yang mendatangkan keresahan bagi yang tidak dapat menggunakan terwakili oleh uang logam; 15) dapat menjujung harkat dan martabat orang tua dilambangkan dengan tuntut atau eter kecil; 16) Ancak cantaka melambangkan kehidupan yang makmur tercukupi kebutuhan jasmani dan rohani; 17) sebagai lambang kehidupan yang baik untuk para Nabi dan Wali terwakili oleh sega uduk atau nasi gurih; 18) kehidupan yang tercukupi dilambangkan pada sega janganan atau nasi sayuran; 19) untuk menyucikan lahir batin disimbolkan dengan sega asahan; 20) penolak balak dan menyingkirkan segala sumber bahaya atau bencana yang akan terjadi terwakili oleh buah-buahan atau jajan pasar; 21) awet muda jika memakan sirih saat gamelan sekaten dibunyikan pertama kali, dan 22) untuk menguji kesungguhan dan keteguhan iman pepatih dalem dalam mengemban perintah ingkang Sinuhun dilambangkan dengan canthangbalung.

B. Saran
Berkaitan dengan simpulan di atas, saran yang dapat diberikan adalah bahwa cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten yang berkembang dalam masyarakat Surakarta ini dapat digunakan sebagai bahan dokumentasi sejarah dan Pemerintah Daerah Surakarta dapat mempublikasikan hal-hal yang berkaitan dengan Upacara Tradisi Sekaten, karena upacara tradisi ini dapat dijadikan aset wisata yang menarik. Dinas Pariwisata hendaknya memberikan rekomendasi untuk menerbitkan buku yang berisi cerita rakyat terutama cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta untuk dijadikan sumber informasi.






Daftar Pustaka
Danandjaja, James. 1997. Folklor Indonesia. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti.
Handipaningrat, KRT.. Tt. Perayaan Sekaten. Surakarta: Kapustakan Sono Pustoko Karaton Surakarta.
Herusatoto, Budiono. 1987. Simbolisme Dalam Budaya Jawa.Yogyakarta: Yayasan Kanisius.
Koentjaraningrat.1984. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Moeliono, Anton (penyunting). 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Poerwadarminto, W.J.S.. 2003. Ensiklopedi Umum. Jakarta: Balai Pustaka.

Rahmawati Agustina Noor. 2002. Sekaten Tahun Dal dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Masyarakat Surakarta. Surakarta: Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS.

Sutarjo, I.. 1998. Nilai Simbolis dan Religius dalam upacara Tradisional Bersih Desa. Penelitian Mandiri: UNS.

Supanto. 1982. Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: Proyek Inventaris dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan